Editor: TEUKU HUSAINI Sinyalgonews.com
Padang, Sinyalgonews.comUpaya penguatan ekosistem seni musik di Sumatera Barat kembali mendapat ruang strategis melalui program Taman Budaya Sumatera Barat yang menyeleksi lima komposer terbaik untuk tampil pada ajang Festival Komposer Musik “Soundenai” 2026. Program ini menjadi bagian dari rangkaian lokakarya komposisi musik yang melibatkan puluhan peserta dari berbagai daerah di Ranah Minang.
Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, menyampaikan bahwa dari 25 peserta yang mengikuti proses lokakarya, hanya lima komposer yang akan dipilih melalui mekanisme kurasi ketat untuk melanjutkan ke tahap pertunjukan utama Soundenai 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober tahun depan. Para peserta terpilih akan mendapatkan waktu pengembangan karya selama beberapa bulan dengan pendampingan dari instruktur dan praktisi seni.
Menurutnya, program ini tidak hanya sekadar ajang seleksi, tetapi juga merupakan ruang pembinaan kreatif bagi generasi muda untuk mengolah kekayaan musik tradisi Minangkabau menjadi karya yang lebih segar, kontekstual, dan mampu berkomunikasi dengan perkembangan zaman.
Tema besar yang diusung dalam Soundenai 2026 adalah “Menghidupkan Narasi melalui Akar Tradisi”, yang menekankan pentingnya menjaga identitas budaya sambil membuka ruang inovasi dalam penciptaan musik. Melalui tema tersebut, Taman Budaya Sumbar mendorong para komposer untuk menjadikan tradisi sebagai sumber inspirasi utama, bukan sekadar objek estetika.
Dalam pelaksanaannya, para peserta lokakarya juga mendapatkan pembekalan dari berbagai narasumber, termasuk akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Salah satu fokus diskusi adalah bagaimana musik tradisi Minangkabau yang kaya dengan ragam geografis dan ekspresi budaya dapat diolah menjadi karya kontemporer tanpa kehilangan akar nilai lokalnya.
Program Soundenai sendiri merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Taman Budaya Sumatera Barat dalam memperkuat posisi musik daerah di tengah arus globalisasi. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi ruang pertemuan antara komposer, koreografer, pembuat film, dan pelaku seni lainnya untuk membangun kolaborasi lintas disiplin.
Kepala Taman Budaya Sumbar menegaskan bahwa perkembangan seni saat ini tidak boleh dipandang secara kaku. Tradisi, menurutnya, harus terus bergerak, beradaptasi, dan melahirkan tafsir baru tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas masyarakat Minangkabau.
Ia juga menambahkan bahwa melalui lokakarya dan seleksi ini, diharapkan lahir karya-karya audio visual yang tidak hanya kuat secara lokal, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat global. Musik Minangkabau diharapkan dapat hadir sebagai medium diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas daerah ke panggung dunia.
Di sisi lain, para akademisi menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan orisinalitas. Penggunaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan dalam produksi musik, dinilai perlu disikapi secara bijak agar tidak menghilangkan unsur emosional dan nilai kemanusiaan dalam karya seni.
Dengan adanya program Soundenai 2026 ini, Taman Budaya Sumatera Barat menunjukkan komitmennya dalam membangun ruang kreatif yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan bagi generasi muda komposer. Harapannya, Sumatera Barat terus menjadi salah satu pusat lahirnya karya musik berbasis tradisi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui seleksi lima komposer ini, masa depan musik tradisi Minangkabau diharapkan tetap hidup, berkembang, dan relevan dengan dinamika zaman tanpa kehilangan jati dirinya.