KERINCI , Sinyalgonews.com,— Nasib tragis menimpa seorang bocah laki-laki berinisial BAI (10), warga Desa Sangir, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Ia diduga menjadi korban malapraktik medis saat menjalani sunat laser di sebuah tempat praktik perawat di daerah tersebut. Ironisnya, alat kelamin bocah malang itu justru terpotong, membuatnya mengalami luka serius, trauma berat, dan kesulitan buang air kecil hingga kini.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Sabtu, 19 Oktober 2024, di sebuah praktik sunat milik oknum perawat berinisial YN. Tempat tersebut hanya mengantongi izin apotek, bukan izin klinik medis, namun tetap nekat melayani tindakan medis yang seharusnya dilakukan oleh dokter ahli.
Dugaan malapraktik ini mencuat ke publik setelah akun Facebook Yuyun Sinta Nara mengunggah dua video berdurasi 30 detik dengan narasi bertajuk “Korban Salah Sunat”. Video itu memperlihatkan kondisi korban pasca tindakan, yang kemudian viral dan memicu kemarahan publik.
Janji Damai Tak Ditepati, Keluarga Lapor Polisi
Setelah kejadian, pihak keluarga sempat menempuh jalur damai dengan YN. Kesepakatan dibuat bahwa seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung oleh pihak pelaku. Namun seiring waktu, YN mulai menghindar dan tidak menunjukkan itikad baik. Hal ini membuat keluarga korban akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polres Kerinci.
“Benar, hari ini pihak keluarga resmi melapor,” ujar Kapolres Kerinci, AKBP Arya T Brachmana, Selasa (27/5/2025). Ia menambahkan bahwa pihaknya tengah mendalami kasus tersebut meskipun peristiwa terjadi delapan bulan lalu.
5 Kali Operasi, Korban Masih Derita Sakit
Pasca kejadian, BAI dirujuk dari klinik di Kayu Aro ke RS MHA Thalib, Sungai Penuh. Namun karena kerusakan yang cukup parah, ia kembali dirujuk ke RS M. Djamil, Padang, Sumatera Barat. Di sana, BAI harus menjalani lima kali operasi untuk memperbaiki kerusakan pada alat kelaminnya. Meski demikian, korban masih merasakan sakit dan kesulitan buang air kecil hingga kini.
“Anak kami masih mengeluh sakit setiap buang air kecil. Kami harap pelaku bertanggung jawab,” ujar salah satu anggota keluarga korban dengan nada sedih.
Bupati Kerinci Turun Tangan, Korban Dikirim ke Padang
Mendengar kabar ini, Bupati Kerinci Monadi langsung mengambil tindakan cepat. Ia memerintahkan Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci untuk mendampingi korban secara penuh, termasuk memfasilitasi keberangkatan korban malam ini ke RS M. Djamil Padang.
“Kami sangat prihatin. Pemerintah tidak boleh tinggal diam. Kesehatan anak-anak adalah tanggung jawab kita semua,” ujar Monadi.
Bupati juga memastikan bahwa oknum perawat YN sudah dimintai keterangan dan mengaku siap bertanggung jawab. Namun, pihak keluarga menyebut janji tersebut belum terealisasi hingga hari ini.
Aktivis Desak Proses Hukum
Peristiwa ini turut menyedot perhatian publik dan aktivis daerah. Imam Zarkasi, Aktivis Muda Kerinci, mengecam keras kejadian ini. Ia menuntut aparat penegak hukum segera memproses kasus ini sesuai hukum yang berlaku.
“Dinas Kesehatan harus segera menyelidiki izin praktik dan kelayakan tempat tersebut. Kalau terbukti malpraktik, pelaku wajib dihukum,” tegas Imam.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa tindakan medis bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarangan. Masyarakat diimbau lebih berhati-hati dalam memilih layanan kesehatan, terutama untuk prosedur medis yang melibatkan alat vital dan anak-anak.
Harapan Keadilan
Keluarga BAI kini hanya bisa berharap agar hukum bisa berpihak kepada mereka dan anaknya mendapatkan penanganan terbaik serta keadilan atas luka fisik dan psikologis yang telah dialaminya.
“Jangan sampai ada anak lain yang jadi korban seperti anak kami,” pungkas keluarga BAI.
( Mat )