Editor: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com,–Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, manusia kini hidup dalam era post-truth, yakni zaman ketika opini, emosi, dan sesuatu yang viral sering dianggap lebih benar daripada fakta dan kebenaran hakiki. Dalam kondisi seperti ini, umat Islam diingatkan agar tidak kehilangan arah dan tetap menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama kehidupan.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa masyarakat modern semakin mudah dipengaruhi oleh media sosial, influencer, propaganda digital, dan opini publik yang belum tentu benar. Sesuatu yang ramai dibicarakan sering langsung dipercaya tanpa tabayyun atau penelitian yang mendalam.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti kecuali hanya prasangka saja.” (QS Al-An’am: 116).
Karena itu, solusi atas krisis moral dan pemikiran umat bukan sekadar memperbaiki teknik komunikasi dakwah, tetapi mengembalikan wahyu Allah sebagai standar kebenaran. Kebenaran tidak diukur oleh jumlah like, share, komentar, ataupun popularitas.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca saat ibadah. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari akidah, akhlak, ekonomi, pendidikan, hukum, hingga pemerintahan.
Namun kenyataannya, banyak negeri Muslim justru menerapkan sistem kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya masyarakat lebih dibentuk oleh budaya kapitalisme daripada nilai-nilai Islam.
Inilah yang menyebabkan dakwah sering terasa berat. Umat mungkin hanya mendengar ceramah satu atau dua jam dalam seminggu, tetapi setiap hari mereka digempur oleh media, hiburan, dan sistem kehidupan yang membentuk pola pikir jauh dari Islam.
Karena itu umat Islam harus kembali dipimpin oleh Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Sebab hanya wahyu Allah SWT yang mampu membawa manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.”
Wallahu a’lam bish-shawab.