Padang, Sinyalgonews.com –
Provinsi Sumatera Barat kembali meneguhkan posisinya sebagai sentra gambir dunia dengan menggelar Rapat Koordinasi Pemanfaatan Teknologi bagi Usaha Kecil dan Hilirisasi Gambir, Selasa (26/8/2025) di Hotel Pangeran Beach, Padang.
Acara ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari asosiasi dan pelaku UMKM gambir, koperasi, BUMN, perusahaan besar, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebanyak 40 peserta hadir dalam forum strategis ini dengan tujuan mendorong hilirisasi dan memperkuat akses pasar bagi produk gambir Sumatera Barat.

Gambir: Komoditas Unggulan dengan Potensi Global
Gambir (Uncaria gambir Roxb) adalah salah satu komoditas unggulan Sumatera Barat yang sudah lama menembus pasar internasional. Indonesia bahkan menguasai sekitar 80% pangsa pasar dunia, dengan India, Bangladesh, Pakistan, hingga sejumlah negara Eropa sebagai tujuan utama ekspor.
Produk gambir digunakan untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari penyamakan kulit, pewarna tekstil, obat tradisional, hingga bahan baku farmasi dan kosmetik. Menurut data Kementerian Perdagangan, ekspor gambir Indonesia mencatat pertumbuhan rata-rata 16,16% per tahun dalam periode 2019–2023, menegaskan daya saing komoditas ini di pasar global.
Namun, di balik potensi besar tersebut, rantai pasok gambir masih menghadapi berbagai persoalan. Mulai dari sistem tata niaga tradisional, ketergantungan pasar India, hingga mutu produk yang belum konsisten karena standar SNI 3391–2000belum sepenuhnya diterapkan.
UMKM Gambir Perlu Sentuhan Teknologi
Kondisi ini semakin kompleks dengan fakta bahwa mayoritas pelaku usaha gambir di Sumatera Barat adalah UMKM berskala kecil yang masih menggunakan teknologi sederhana. Data Kementerian UMKM menyebutkan 93,95% UMKM masih mengandalkan peralatan manual atau semi-manual, sehingga produktivitas mereka 20–30% lebih rendah dibandingkan industri menengah dan besar.
Melalui rapat koordinasi ini, pemerintah mendorong agar UMKM gambir tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga memanfaatkan teknologi digital untuk perluasan pasar, strategi pemasaran modern, hingga akses pembiayaan.
Hilirisasi Jadi Kunci
Kementerian Koperasi dan UKM sebelumnya telah menggagas program Peningkatan Manajemen Tata Kelola Sentra Komoditas Gambir pada Oktober 2024. Dari program ini lahir beberapa rencana aksi, di antaranya:
-
Hilirisasi industri melalui riset dan inovasi produk turunan;
-
Reformasi tata niaga berbasis Sistem Resi Gudang (SRG) & Pasar Lelang Komoditas (PLK);
-
Diversifikasi pasar ekspor dan promosi internasional;
-
Pemberdayaan UKM & koperasi berbasis digital;
-
Pembangunan infrastruktur bersama untuk peningkatan mutu produksi.
Forum rakor hari ini menjadi kelanjutan konkret dari rencana aksi tersebut. Dengan hilirisasi, diharapkan gambir Sumbar tidak lagi hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga sebagai produk bernilai tambah tinggi seperti katekin, kosmetik, pewarna alami, hingga bahan farmasi yang berdaya saing global.
Harapan ke Depan
Melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, koperasi, hingga perusahaan besar, Sumatera Barat diharapkan tidak hanya menjadi sentra produksi gambir dunia, tetapi juga pusat inovasi hilirisasi gambir.
“Dengan pemanfaatan teknologi dan penguatan ekosistem bisnis, UMKM gambir Sumatera Barat bisa naik kelas. Tidak hanya menyejahterakan petani, tetapi juga memperkokoh posisi Indonesia di pasar internasional,” ujar salah satu pejabat yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Rapat koordinasi ini menjadi momentum penting agar “emas hijau” Sumatera Barat benar-benar memberi nilai tambah maksimal bagi masyarakat lokal sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
( Mat )