Karya TEUKU HUSAINI | Sinyalgonews.com
Rahma menatap rumah kecilnya dari beranda. Hujan semalam meninggalkan genangan di halaman, dan aroma tanah basah menyelimuti udara. Ia menghela napas panjang. Hidupnya sederhana, namun hatinya sering gelisah memikirkan anak-anak dan cucu-cucunya yang jauh di perantauan. Kenangan bersama almarhum suaminya, Paino Nungroho, yang wafat 20 November 2019, selalu hadir di setiap sudut hati, memberi kekuatan sekaligus rindu yang tak pernah padam.
Pagi itu, Rahma berjalan ke pasar membawa keranjang anyaman. Matanya menangkap pedagang yang tersenyum ramah, burung-burung yang terbang rendah, dan tawa anak-anak tetangga. Namun di hatinya terselip kesedihan yang lembut. Ia tersenyum tipis saat seorang pedagang bertanya, “Rahma, kenapa wajahmu murung pagi ini?” Rahma menjawab dengan lembut, “Hanya rindu, Pak. Tapi Allah selalu memberi kekuatan.”
Setibanya di rumah, Rahma duduk di ruang tamu sendiri, mengingat senyum suaminya yang dulu selalu menyambutnya. Ia menyusun doa-doanya dengan khusyuk, memohon agar Allah menjaga anak-anak, cucu-cucu, dan dirinya sendiri dalam keberkahan dan kesehatan. Air matanya menetes pelan, bukan karena lemah, tapi karena rasa syukur atas kasih yang pernah mengisi hidupnya.
Ketika cucu-cucunya datang bermain, Rahma tersenyum hangat. “Nenek, kenapa nenek menangis?” tanya mereka polos. Rahma mengusap wajahnya dan berkata, “Bukan menangis karena sedih, sayang. Nenek bersyukur bisa menjaga keluarga, seperti dulu nenek menjaga ayah kalian. Kadang hati ini hanya ingin melepaskan rasa rindu.”
Beberapa minggu kemudian, anak-anaknya pulang. Mereka tertegun melihat ibu mereka, yang tetap kuat dan penuh kasih meski kehilangan suami tercinta. Salah satu anaknya memeluknya sambil menangis, “Ibu, kami baru sadar betapa hebatnya Ibu. Semua yang Ibu lakukan, tanpa keluh kesah, karena cinta yang tulus.”
Rahma tersenyum dan memeluk mereka. “Hidup itu sederhana, anak-anakku. Bahagia bukan soal harta atau kemewahan, tapi tentang kasih sayang, doa, dan iman yang teguh. Cinta seorang ibu, seperti cinta ayah kalian dulu, selalu abadi.”
Mentari pagi menembus jendela rumah. Rahma duduk di beranda, melihat cucu-cucunya bermain, hatinya tenang. Ia tahu, kasih yang tulus dan doa yang dipanjatkan seorang ibu mampu menerangi keluarga, bahkan meski orang yang dicintai telah pergi. Rahma bukan sekadar ibu rumah tangga. Ia simbol kekuatan wanita Minang—tulus, sabar, penuh kasih, dan teguh dalam iman. Dan dalam setiap senyumnya, tersimpan pelajaran tentang hidup: bahwa cinta yang nyata tak pernah hilang, bahkan oleh kematian sekalipun.