PADANG, Sinyalgonews.com,–Pendiri Utama Forum Dinamika Indonesia (FDI), Nof Hendra, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi Rania Kanaka Yuandana, siswi kelas 6A SD Muhammadiyah Suronatan, Ngampilan, Kota Yogyakarta yang berhasil meraih nilai sempurna 100 di seluruh mata pelajaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Tes Kemampuan Akademik Daerah (TKAD).
Apresiasi disampaikan Nof Hendra dalam keterangan tertulis kepada awak media di Padang, Selasa (9/6/2026).
“Prestasi Rania adalah bukti nyata bahwa anak Indonesia bisa menjadi juara tanpa harus tertekan. Kuncinya: enjoy belajar, disiplin, dan punya tujuan. Ini pelajaran berharga untuk kita semua – orang tua, guru, dan negara,” ujar Nof Hendra.
Tanggapan FDI untuk Rania
FDI menyoroti 3 hal dari kisah Rania yang patut diteladani anak-anak Indonesia:
1. Belajar dengan Cara Bahagia
Rania tidak memaksakan diri. Ia belajar sambil “bermain” bersama teman les, istirahat main gitar/game kalau capek, dan tetap cukup tidur. Ini membantah mitos bahwa juara harus begadang dan stres.
2. Punya Target & Tanggung Jawab
Sejak awal kelas 6 Rania sudah menargetkan nilai 100. Ia fokus saat waktunya belajar, baru banyak bermain setelah ujian. “Banyak bermain boleh, yang penting tanggung jawab” – kalimat ini sederhana tapi powerful.
3. Berbagi Ilmu
Rania aktif di program Tutor Sebaya, membantu teman yang kesulitan. Juara sejati bukan hanya cerdas, tapi juga mau mengangkat orang lain.
“Rania pendiam tapi supel, cerdas tapi rendah hati. Inilah karakter anak Indonesia yang kita butuhkan ke depan,” tambah Nof Hendra.
Harapan FDI untuk Anak-anak Indonesia
Melihat prestasi Rania, Nof Hendra menyampaikan 4 harapan besar untuk generasi muda Indonesia:
1. Untuk Anak-anak: Berani bermimpi besar seperti Rania yang ingin jadi Psikiater. Temukan cara belajarmu sendiri. Juara bukan soal siapa paling pintar, tapi siapa paling konsisten dan enjoy dengan prosesnya.
2. Untuk Orang Tua: Jangan jadikan nilai sebagai tekanan. Dukung anak menemukan ritme belajar yang sehat. Main gitar, main game, tidur cukup itu juga bagian dari tumbuh kembang.
3. Untuk Sekolah & Guru: Perbanyak program seperti “Tutor Sebaya” di SD Muhammadiyah Suronatan. Anak yang mengajar anak akan melahirkan ekosistem kolaboratif, bukan kompetitif beracun.
4. Untuk Negara: Jamin pemerataan akses kelompok belajar, internet, dan guru berkualitas sampai ke pelosok. Jangan sampai hanya anak di kota besar yang punya kesempatan jadi “Rania”.
“Bayangkan kalau Indonesia punya 1 juta Rania. Kita tidak perlu impor dokter, psikolog, insinyur lagi. Kuncinya ada pada ekosistem: rumah yang mendukung, sekolah yang menginspirasi, dan negara yang hadir,” tegas Nof Hendra.
Catatan Prestasi
Rania menjadi satu-satunya siswa SD Muhammadiyah Suronatan yang meraih nilai 100 untuk 3 mapel: Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPAS. Rerata gabungan TKA-TKAD sekolah itu 83,00. Keberhasilan ini juga buah komitmen sekolah yang sejak kelas 5 sudah menyamakan strategi dengan wali murid.
Sebagai penutup, FDI mendoakan Rania sukses di SMP Negeri 5 Jogja dan meraih cita-citanya jadi Psikiater. “Indonesia butuh lebih banyak dokter yang paham psikologi seperti Rania. Selamat dan teruslah menginspirasi,” tutup Nof Hendra.
Sekilas tentang FDI
Forum Dinamika Indonesia adalah wadah diskusi dan gagasan independen yang mengkaji isu pendidikan, sosial-budaya, kesehatan, pemberdayaan masyarakat sipil, dan isu strategis lainnya di Indonesia dari Sabang sampai Merauke dalam bingkai NKRI.
****