Oleh : TEUKU HUSAINI
PADANG, Sinyalgonews.com – Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) merupakan fondasi utama kehidupan masyarakat Minangkabau yang telah diwariskan turun-temurun. Nilai luhur tersebut tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga menjadi pedoman moral dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan beragama. Namun di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial, muncul keprihatinan bahwa falsafah tersebut semakin sering dijadikan slogan seremonial daripada diamalkan dalam kehidupan nyata.
ABS-SBK mengajarkan bahwa adat Minangkabau berlandaskan syariat Islam, sementara syariat bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Dari falsafah inilah lahir masyarakat yang menjunjung tinggi kejujuran, amanah, rasa malu, tanggung jawab, serta keberanian menegakkan kebenaran. Nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan utama yang membentuk karakter masyarakat Minangkabau sejak dahulu.
Namun kenyataan yang berkembang saat ini memperlihatkan gejala yang patut menjadi bahan renungan bersama. Di berbagai kesempatan, istilah ABS-SBK masih sering dikumandangkan dalam pidato, seminar, maupun acara adat. Akan tetapi, dalam praktik kehidupan sehari-hari masih ditemukan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut, mulai dari ketidakjujuran, penyalahgunaan amanah, hingga sikap yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa ABS-SBK tidak boleh diposisikan sebagai simbol semata. Falsafah ini harus hadir dalam setiap keputusan, kebijakan, ucapan, maupun tindakan. Masyarakat akan lebih percaya kepada teladan nyata dibandingkan sekadar ungkapan yang indah.
Dalam tradisi Minangkabau, kehormatan seseorang tidak diukur dari jabatan atau gelar yang dimiliki, melainkan dari akhlak dan integritasnya. Orang yang jujur, amanah, serta konsisten memegang prinsip selalu memperoleh tempat terhormat di tengah masyarakat. Sebaliknya, penghormatan akan memudar apabila perilaku tidak sejalan dengan nilai adat dan agama.
Karena itu, seluruh unsur masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga keberlangsungan falsafah ABS-SBK. Ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga generasi muda harus menjadi contoh dalam mengamalkan nilai-nilai tersebut. Keteladanan merupakan cara paling efektif untuk menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Kemajuan teknologi dan era digital tidak semestinya mengikis identitas Minangkabau. Justru perkembangan tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan karakter, memperkenalkan nilai-nilai ABS-SBK kepada generasi muda, serta membangun kesadaran bahwa kemajuan tidak boleh mengorbankan jati diri.
Kritik terhadap berbagai penyimpangan yang terjadi juga perlu dipandang sebagai bentuk kepedulian, bukan permusuhan. Dalam budaya Minangkabau, menyampaikan kebenaran merupakan bagian dari tanggung jawab moral agar masyarakat tidak kehilangan arah dan tetap berpegang pada nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Masyarakat Minangkabau diharapkan tidak hanya bangga mengucapkan falsafah ABS-SBK, tetapi juga mampu membuktikannya melalui perilaku sehari-hari. Kejujuran, amanah, rasa malu, keadilan, serta kepedulian sosial harus menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
Apabila nilai-nilai ABS-SBK benar-benar dihidupkan kembali, Minangkabau akan tetap dikenal sebagai daerah yang bermartabat, berbudaya, religius, serta melahirkan generasi yang berintegritas. Sebaliknya, apabila falsafah tersebut hanya dijadikan hiasan pidato dan slogan semata, maka perlahan karakter asli Minangkabau akan memudar.
Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat melakukan introspeksi dan menjadikan ABS-SBK sebagai pedoman hidup yang nyata, bukan sekadar simbol. Sebab, karakter Minangkabau tidak ditentukan oleh apa yang diucapkan, melainkan oleh apa yang diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari.