Editor: TEUKU HUSAINI
Semarang, Sinyalgonews.com— Kisah perjuangan penuh inspirasi datang dari dunia pendidikan Indonesia. Anita Firdaus, mahasiswi asal Bojonegoro, Jawa Timur, berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Program Studi Manajemen Haji dan Umroh (MHU) S1 di UIN Walisongo. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan besar bagi keluarganya yang hidup sederhana sebagai petani di kampung halaman.
Anita mencatat prestasi akademik gemilang dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,73. Keberhasilannya menjadi sorotan karena ia berasal dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya hanya lulusan Sekolah Dasar (SD), namun memiliki tekad kuat agar anak mereka bisa mengenyam pendidikan tinggi.
Dalam berbagai kesempatan, Anita mengaku sangat bersyukur atas pencapaiannya tersebut. Ia bahkan tidak menyangka dapat menjadi lulusan terbaik di jurusannya. Baginya, keberhasilan itu bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga doa dan dukungan orang tua yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.
Skripsi yang mengantarkan Anita meraih prestasi membahas tentang persepsi jamaah haji terhadap kualitas layanan sistem multi syarikah pada KBIHU At-Tanwir Kabupaten Bojonegoro. Penelitian tersebut dinilai menarik karena membahas sistem layanan haji yang mulai diterapkan pada 2025 lalu.
Meski dikenal sebagai pribadi pemalu, Anita berusaha melawan rasa takut saat melakukan penelitian lapangan. Ia harus bertemu dan mewawancarai banyak jamaah yang sebelumnya tidak dikenalnya. Pengalaman tersebut menjadi tantangan tersendiri baginya.
Anita mengungkapkan bahwa ada responden yang menerima dengan baik, namun tidak sedikit pula yang menolak diwawancarai. Dari pengalaman itu, ia belajar tentang keberanian, kesabaran, dan pentingnya komunikasi dalam dunia akademik maupun kehidupan sosial.
Keterbatasan ekonomi keluarga tidak pernah membuat Anita menyerah. Ia justru menjadikan nasihat orang tua sebagai bahan bakar semangat untuk terus belajar. Orang tuanya selalu mengingatkan bahwa ilmu merupakan jalan menuju kesuksesan dan perubahan nasib keluarga.
Pesan sederhana dari ayah dan ibunya sangat membekas di hati Anita. Orang tuanya meminta agar ia belajar rajin dan tekun karena mereka dahulu tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Nasihat itulah yang terus membuat Anita bertahan menghadapi berbagai kesulitan selama kuliah.
Selama menjalani pendidikan di UIN Walisongo, Anita juga tinggal di lingkungan Ma’had atau pondok pesantren. Kehidupan pesantren membuatnya harus pintar membagi waktu antara kegiatan akademik dan aktivitas keagamaan.
Meski sibuk, Anita tetap disiplin menyelesaikan tugas kuliah tepat waktu. Ia juga memanfaatkan waktu luang untuk memperdalam ilmu tentang haji dan umroh. Ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil manis dengan predikat cumlaude sekaligus wisudawan terbaik.
Kini, setelah berhasil meraih gelar sarjana, Anita memiliki cita-cita melanjutkan studi ke jenjang magister atau S2. Selain itu, ia juga ingin membangun usaha sendiri agar dapat membantu perekonomian keluarga dan membuka peluang kerja bagi orang lain.
Kisah Anita Firdaus menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi dan prestasi gemilang. Dengan kerja keras, doa orang tua, serta semangat pantang menyerah, anak petani lulusan SD pun mampu mengantarkan putrinya menjadi wisudawan terbaik di perguruan tinggi Islam ternama Indonesia.