Padang, Sinyalgonews.com,— Biduak atau biduk karena ukuran kecil banyak dipergunakan orang untuk alat transportasi air seperti di danau, sungai atau talago yang umumnya airnya tenang dan adakalanya penuh ditumbuhi/ditutupi oleh sejenis tanaman air yang disebut kiambang.
Kiambang hidup mengapung diatas air dan tidak ada yang menonjol lebih tinggi dari yang lain, semua bentuk sama. Hidupnya rapat berdampingan dan tidak pernah bercerai berai kecuali ada yang merusak.
Apabila biduk lewat, maka kiambang akan terbelah dua. Berpisah saling berjauhan. Namun sehabis itu kembali menyatu dan merapat sebagaimana sedia kala. Terlihat rapi seolah olah tidak ada terjadi apa apa.
Fenomena kiambang ini seharusnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi orang minang (alam takambang jadikan guru). Berikut, kiambang diibaratkan masyarakat Sumatera Barat dan biduk sebagai proses pilkada.
Kita baru saja melaksanakan pemilihan Kepala Daerah, baik Gubernur, Bupati maupun Walikota. Pelaksanaan pemilihan kepala daerah ini dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. Pilkada ini dilaksanakan di 37 Provinsi, 415 Kabupaten dan 93 Kota. Sangat jauh
berbeda daripada pilpres, karena pilpres bersifat nasional. Sementara pilkada di masing masing daerah dan sangat banyak dipengaruhi oleh adat istiadat atau budaya daerah masing masing.
Pilkada serentak ini dilaksanakan setelah berlangsungnya pemilu (pileg dan pilpres). Suasana pemilu yang aromanya tercium kurang enak disebabkan adanya cawe-cawe presiden (istilah
kekinian). Semua itu sedikit banyaknya berdampak kepada pilkada.
Di latar belakangi oleh pelaksanaan pemilu yang lalu, maka tingkat kepercayaan rakyat terhadap jurdilnya pilkada sangat menurun. Akibat menurunnya kepercayaan kepada penyelenggara pemilu serta tidak
adanya paslon yang dapat memberikan harapan, maka di sebagian masyarakat terbentuk sebuah pilihan yaitu “memilih untuk tidak memilih.”
Lalu bagaimana dengan pelaksanaan pilkada di Sumatera Barat ?
Pilkada Sumbar sangat menarik untuk kita cermati. Baik pemilihan Gubernur, Bupati maupun Walikota. Total kepala daerah yang dipilih sebanyak 20 Kepada Daerah yaitu Gubernur, Bupati dan Walikota. Diantara paslon ada yang baru dan ada juga yang melanjutkan ke periode kedua. Bahkan ada juga yang mau naik kelas, dari Kabupaten ke Provinsi.
Pada pelaksanaan pilkada sekarang ini terbentuk kondisi yang menegangkan. Kondisi tersebut terjadi baik antara sesama paslon maupun sesama pemilih bahkan tidak tertutup kemungkinan
antara paslon dan pemilih (rakyat). Semua terbelah belah, saling gontok gontokan. Masing masing pendukung juga saling menyerang, hanya gara gara beda pilihan. Beda pilihan sendiri terjadi kadang kala bukan karena melihat kelebihan/kekurangan paslon, terpenuhinya syarat
syarat pemimpin pada paslon yang diandalkan, akan tetapi banyak yang sekedar ikut ikutan, atau bisa jadi dikarenakan memperebutkan banyaknya dana kampanye yang dimiliki oleh
paslon. Tentu ada juga yang betul betul ikhlas memperjuangkan paslon yang dinilai bisa membawa perubahan.
Bahasa yang dipakai paslon untuk menjatuhkan lawan juga sudah sangat tidak bersahabat dan tidak lagi memperlihatkan sebagai seorang yang berpendidikan. Saling menghujat dan tidak lagi mencerminkan kesantunan orang minang dalam berbahasa, walaupun diantara mereka banyak yang berstatus ninik mamak.
Bahasa yang dipakai pendukung paslon baik sebagai tim pemenangan maupun pendukung biasa juga tidak lagi santun. Lebih mengkedepankan kebencian, sehingga apapun yang datang dari
pihak lawan dianggap salah. Lebih dari itu para ulama, tokoh masyarakatpun sudah ikut ikutan terbelah akibat dukung mendukung paslon. Hal ini sangat disayangkan karena dapat menjatuhkan nama baik mereka yang selama ini ada dihati masyarakat. Dengan bergabungnya
mereka ke salah satu paslon, maka akan kehilangan simpatisan dari pemilih paslon lawan.
Walaupun MUI sudah mengeluarkan pejelasan bahwa politik uang hukumnya haram, tetap saja masih ada paslon yang melakukannya dengan berbagai cara yang terkesan baik seperti mengunjungi pasar dan memborong jualan sayur dll, kemudian membagikan alias gratis. Juga
mengunjungi rumah ibadah dan membagikan nasi bungkus untuk jamaah, dan banyak lagi bermacam macam pencitraan yang dilakukan. Harusnya sewaktu menjabat berbuat demikian.
Kita tunggu saja semoga setelah dilantik tetap akan melanjutkan perbuatan indah tersebut sehingga tidak terkesan sebagai pencitraan terus menerus. Apabila ternyata melakukan kesalahan, maka kita ingatkan bersama sama dengan baik.
Kepada semua lapisan masyarakat, mantan paslon anggota tim pemenangan, ulama, tokoh masyarakat serta tokoh adat yang sebelumnya ikut terlibat dalam dukung mendukung paslon
diharapkan kembali bersatu. Tidak ada lagi perbedaan, semua sudah menjadi satu dan bersatu sebagaimana “Biduk Lalu Kiambang batauik”. Semoga Allah swt turunkan keberkahan di bumi
Minang ini …..Amiiin
Alhasil perpecahan sudah mencakup hampir semua lapisan masyarakat. Banyak kelompok yang terpecah dua. Juga ada yang sebelumnya berteman baik, hanya karena perbedaan pilihan atau
tidak mendukung pilihannya, tiba tiba putus persahabatan. Kalau dilihat dengan jernih dan hati sehat rasanya tidak akan mungkin sampai memutuskan tali persaudaraan. Lalu kenapa semua
itu bisa terjadi ?, ataukah sudah ada semacam operasi pihak intelijen yang menyusup, wallahu
وهللا أعل a’lam
Sekarang pilkada sudah selesai. Walaupun keputusan resmi dari KPU belum keluar dan adanya laporan indikasi kecurangan di beberapa tempat, namun sebahagian dari hasil perkiraan sementara sudah dapat diketahui. Harapan masyarakat kepada yang terpilih adalah, bahwa semua yang pernah dijanjikan sewaktu kampanye baik dijanjikan secara tertulis maupun secara
lisan wajib dipenuhi. Alangkan bagusnya lagi kalau pencitraan dengan mengunjungi pasar sambil bagi bikan sembako atau mengunjungi rumah ibadah sambil bagi bagi makanan terus dilakukan sehingga tidak lagi terkesan pencitraan, melainkan sudah berobah menjadi kebiasaan
Kepada semua masyarakat diharapkan untuk mentaati pemimpin terpilih/Ulil Amri (Q.S.4,59) sejauh dia tidak melanggar syari’at islam. Kita jaga dan kita bantu serta kita pantau mereka