Editor: TEUKU HUSAINI
Sukabumi, Sinyalgonews.com,–Di negeri yang katanya kaya sumber daya alam, ironi masih menjadi tontonan sehari-hari. Di satu sisi, pejabat berlomba memamerkan angka anggaran puluhan hingga ratusan triliun rupiah. Di sisi lain, anak-anak bangsa masih harus mempertaruhkan nyawa demi mengenyam pendidikan.
Pemandangan memilukan itu terus berulang dari tahun ke tahun. Anak-anak sekolah meniti jembatan rusak, bergelantungan di kabel baja, berjalan di atas papan lapuk, bahkan menuruni sungai demi sampai ke sekolah. Semua dilakukan demi masa depan yang lebih baik.
Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, para siswa terpaksa melewati jembatan gantung yang miring drastis setelah salah satu fondasinya runtuh akibat longsor. Kondisi jembatan yang nyaris putus itu tetap dipakai karena menjadi satu-satunya akses utama menuju sekolah.
Di Aceh Tengah anak-anak bahkan harus meniti kerangka besi jembatan gantung yang sudah hancur diterjang banjir. Setiap langkah menjadi pertaruhan antara hidup dan maut. Namun mereka tetap berjalan, karena pendidikan adalah harapan terakhir keluarga mereka.
Di Pandeglang, Banten, siswa sekolah dasar harus menggunakan tangga bambu untuk melewati puing-puing jembatan ambruk. Sementara di Sikka, Nusa Tenggara Timur, anak-anak kecil menyeberangi jembatan rapuh yang papan-papannya sudah hilang satu per satu.
Pertanyaannya sederhana: ke mana sebenarnya arah pembangunan negeri ini?
Rakyat setiap hari mendengar pidato tentang kemajuan, investasi, pertumbuhan ekonomi, dan proyek bernilai fantastis. Namun kenyataan di pelosok masih memperlihatkan wajah Indonesia yang tertinggal. Infrastruktur dasar seperti jembatan aman dan jalan layak masih menjadi barang mewah bagi sebagian rakyat kecil.
Yang lebih menyakitkan, penderitaan itu sering baru diperhatikan setelah viral di media sosial. Setelah video anak sekolah menangis atau meniti jembatan rusak tersebar luas, barulah pejabat turun melihat lokasi.
Pendidikan seharusnya menjadi jalan keluar dari kemiskinan, bukan justru menjadi perjalanan penuh ancaman maut. Tidak seharusnya anak-anak kecil memulai hari dengan rasa takut hanya untuk sampai ke ruang kelas.
Bangsa ini tidak kekurangan uang. Yang sering kurang adalah keberpihakan dan rasa malu melihat rakyat kecil terus menderita. Ketika anggaran triliunan diumumkan dengan bangga, rakyat tentu berhak bertanya: mengapa masih ada anak-anak yang harus bertaruh nyawa demi sekolah?
Karena sejatinya, ukuran keberhasilan negara bukan hanya gedung megah atau angka besar di atas kertas. Tetapi apakah setiap anak Indonesia bisa pergi ke sekolah dengan aman, tanpa takut pulang tinggal nama.