Rasulullah ﷺ Bersabda :
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR. Muslim) .
==============
KULIAH SHUBUH
Ahad 14 Desember 2025 (23 Jumadil Akhir 1447 H)
Orang Orang Yang Beriman Selalu Sabar , Bersyukur Dan Bertaqwa
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Terlebih dahulu marilah kita sekalian untuk senantiasa meningkatkan taqwa serta bersyukur kepada Allah Swt.
Bersyukur kepada Allah Swt, yang masih berkenan memberikan curahan nikmat luar biasa kepada kita semua.
Semoga dengan senantiasa bersyukur kepada Allah Swt, nikmat-nikmat yang ada pada kita akan langgeng, bertambah, dan menjadi berkah.
Selanjutnya shalawat dan salam kita haturkan kepada uswatun hasanah, teladan yang baik, junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ .
Semoga juga tersampaikan kepada para sahabat beliau, tabiin, tabiut tabiin, serta orang-orang yang istiqomah hingga akhir zaman nanti.
Semoga kita semua termasuk umatnya yang mendapat syafaat beliau pada hari ketika tidak ada syafaat melainkan atas izin-Nya.
Karena taqwa adalah sebaik-baik bekal di dunia maupun di akhirat.
Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah 197, “Dan berbekallah kalian semua, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa.”
Di antara nikmat terbesar dalam urusan agama, yang diterima kaum muslimin jika menjalankan ketaatan adalah kesadaran dan kemampuan kita untuk memperbanyak ibadah kepada Allah Swt.
Semua dilakukan untuk mendapatkan derajat ketaqwaan yang dipakai bekal di dunia dan dihari akhir kelak .
Salah satu dari faedah taqwa yang Allah Swt kabarkan kepada kita adalah, bahwa rasa taqwa itu akan mendatangkan kabar gembira dari Allah Swt baik di kehidupan dunia maupun akhirat.
Allah Swt berfirman, :
“Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.
Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat.
Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat atau janji-janji Allah.
Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”
(QS. Yunus: 63-64)
Secara lugas dan tegas ayat ke 64 didalam surah Yunus tersebut menyebutkan adanya kabar gembira yang akan diterima oleh orang beriman dan bertaqwa.
Bilamana ada kabar gembira dari teman atau sahabat atau keluarga saja membuat kita bahagia, bahkan terkadang menutupi kesedihan dalam hati.
Terlebih lagi jika kabar gembira itu berasal dari Allah Swt, maka tentunya lebih menggembirakan dan dapat dipastikan kebenarannya.
Imam Al-Qurthubi menyebutkan beberapa riwayat terkait dengan kabar gembira yang dimaksud dalam Ayat tersebut.
Ada riwayat dari Ibnu Mubarok bahwa kabar gembira di dunia yang dimaksud adalah, kelak di saat menjelang kematian maka akan ada malaikat yang menjemput dan mengucapkan salam kepada orang yang bertaqwa.
Padahal jika kita ingat kembali ngerinya sakaratul maut, maka tentunya sangat kita harapkan dalam peristiwa sakaratul maut itu disambut salam keselamatan dari malaikat.
Selanjutnya kabar gembira dari akhirat.
Maka mereka akan mendapatkan kabar dari malaikat perihal Jannah yang akan mereka dapatkan dan balasan dari amal – amal sholeh yang pernah mereka kerjakan selama hidup didunia .
Tidak ayal lagi ini adalah impian dari setiap orang yang beriman meyakini adanya Hari Pembalasan.
Poin berikutnya yang perlu direnungkan adalah bagaimana ketaqwaan itu bisa diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari.
Teori bahwa takwa itu adalah mengerjakan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya adalah mudah.
Namun yang menjadi PR adalah, bagaimana wujudnya dalam diri dan kehidupan kita?
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Salah satu faktor yang dapat memudahkan kita untuk menggapai taqwa adalah adanya rasa cinta kepada Allah Swt ..
Dalam konteks kecintaan kita pada Allah meliputi gambaran cinta serta utamanya cinta kepada Allah Swt.
Beliau mengibaratkan cinta di dalam hati itu ibarat akar. batang , ranting dan daun yang saling mendukung di dalam sebuah pohon yang rindang.
Sebagaimana halnya pohon di kehidupan nyata yang tidak mungkin hidup tanpa dukungan sarana kehidupan, maka demikian juga pohon cinta didalam hati.
Akarnya ibarat ketundukan pada yang dicintai.
Batang pohon ibarat ma’rifat atau mengenal kepada Allah Swt.
Rantingnya ibarat rasa takutnya pada Allah Swt.
Dedaunan ibarat rasa malu pada diri seseorang dan buah dari pohon cinta ini adalah amal sholih dan ketaatan. Kemudian pohon tersebut agar subur maka perlu adanya pupuk, dan pupuknya adalah dengan berdzikir selalu ingat kepada Allah Swt.
Jika pada diri seseorang ada sesuatu yang kurang dari itu semua, maka kurang juga rasa cintanya kepada Allah Swt.
Lantas apa saja faktor-faktor yang dapat menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah Swt ?
1.Pertama, membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya.
Al-Quran adalah surat cinta dari Allah kepada hamba-Nya.
Maka tidak ada kekasih yang bosan dan enggan melihat, membaca dan mengulang-ulang surat cinta dari kekasihnya.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap Al-Qur’an adalah surat-surat dari Rabb mereka.
Pada malam hari, mereka selalu merenunginya, serta akan berusaha mencarinya pada siang hari.”
2.Kedua, memperbanyak amal sunah setelah memenuhi yang wajib.
Melaksanakan yang wajib itu menunjukkan kepatuhan dan ketaatan.
Namun menambah ibadah yang sunah, adalah bukti kerinduan dan kecintaan untuk selalu berdekatan dan berkomunikasi dengan Allah Swt.
Disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi, :
“Sesungguhnya Allah Swt berfirman, : “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Allah cintai dibanding apa yang telah Aku wajibkan baginya.
Ia selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan amalan nafilah atau sunnah hingga Aku mencintainya.”
Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar,
Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah.
Jika dia meminta kepada-Ku pasti Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.’”
(HR. Al-Bukhari 6502)
3.Ketiga, menelaah asma’ dan sifat Allah Swt.
Allah Swt adalah Dzat yang ghaib. .
Mengenal atau berma’rifat tentang Allah Swt adalah lewat ilmu.
Dengan menggunakan ilmu atau mempelajari sifat dan asmanya.
Hal ini terbukti dalam firman Allah Swt.
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah sesembahan, tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19) .
Mempelajari dan menelaah asma’ dan sifat Allah, akan lebih membuka hati kita untuk lebih mengenal keagungan-Nya. Terlebih lagi ada keutamaan tersendiri bagi orang yang mau belajar menelaah asma’ dan sifat Allah, disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim :
“Sesungguhnya Allah Swt memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu.
Barangsiapa menghafalnya, maka ia akan masuk surga.”
(HR. Al-Bukhari, 2736 dan Muslim, 2677)
4.Keempat, bermunajat di sepertiga malam terakhir.
Sepertiga malam adalah waktu yang berat untuk sekedar membuka mata.
Tidak mungkin akan ada yang mau terbangun di waktu tersebut kecuali ada faktor pendorong yang menguatkan dirinya.
Maka bermunajat kepada Allah Swt di waktu tersebut akan sangat berat jika tidak dilandasi rasa cinta dan rindu.
Disebutkan dalam riwayat hadits dari Abu Hurairah, :
Rasulullah ﷺ bersabda,:
“Rabb Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam, yakni saat sepertiga malam terakhir seraya berfirman :
‘Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Muslim, 1261)
5.Kelima, bermajelis dengan orang shalih dan meniru adab mereka.
Bermajelis dan berakrab dengan orang-orang shalih akan memberikan dampak yang positif bagi pelakunya.
Sebab akhlak baik dan buruk itu dapat menular.
Ada beberapa faedah dalam bermajelis dengan orang-orang shalih.
Di antaranya adalah mendapat keberkahan mereka, sebagian ahli hikmah mengatakan bahwa barang siapa yang suka bermajelis kebaikan maka ia akan mendapat keberkahannya, maka bermajelislah dengan para wali Allah Swt niscaya kamu tidak akan sengsara.
Bagaimana tidak, sebab orang yang shalih ketika kita berada di dekatnya, jika kita berbuat salah maka akan diingatkan.
Mari ingat kembali sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa beliau bersabda, :
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya.
Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.”
(HR. Abu Daud, 4918)
Semoga mampu menggugah hati kita untuk lebih bersemangat lagi menggapai taqwa pada Allah Swt, khususnya lewat jalur cinta.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته