Padang, Sinyalgonews.com,–Setiap tanggal 1 Juni, bangsa ini memperingati Hari Susu Nusantara (HSN), sebuah momen reflektif yang seharusnya tidak hanya berfokus pada susu industri, tetapi juga memberi panggung bagi warisan susu tradisional yang tak kalah menyehatkan. Salah satu pusaka kuliner dari Sumatera Barat yang patut mendapat sorotan adalah dadiah—produk fermentasi susu kerbau yang kaya manfaat, namun kerap tersembunyi di balik gemerlapnya produk modern. Lebih dari sekadar sajian lokal, dadiah adalah representasi nyata sinergi antara kearifan lokal dan ilmu pangan alami, sebuah warisan yang selayaknya dirayakan, dikembangkan, dan diakui dunia.
Proses pembuatan dadiah begitu unik dan alami, hingga nyaris menjadi ritual tersendiri dalam tradisi masyarakat Minangkabau. Susu kerbau segar dituang ke dalam ruas bambu yang telah dibersihkan, lalu ditutup rapat dengan daun pisang yang memiliki sifat antibakteri alami. Fermentasi berlangsung selama satu hingga dua hari pada suhu ruang, tanpa tambahan kultur starter buatan seperti halnya yoghurt atau kefir. Dalam diam, mikroorganisme alami dari bambu, udara, dan lingkungan sekitar bekerja membentuk tekstur lembut seperti puding dengan aroma khas yang memadukan keasaman susu dan keharuman bambu. Keajaiban ini terjadi tanpa intervensi teknologi canggih—hanya memanfaatkan alam dan waktu.
Di balik kelembutannya, dadiah menyimpan kekayaan nutrisi yang menakjubkan. Kandungan protein dan lemaknya lebih tinggi dibandingkan beberapa produk susu fermentasi komersial, menjadikannya sumber energi sekaligus bahan bakar pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh. Rasio kandungan air yang tinggi membuat dadiah mudah dicerna, sementara pH-nya yang berkisar antara 3,4 hingga 4,0 menciptakan lingkungan yang stabil bagi probiotik. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa setiap gram dadiah mengandung lebih dari 21 miliar koloni bakteri asam laktat—angka fantastis yang melampaui standar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang hanya 2 miliar koloni per gram.
Kehadiran mikroba baik seperti Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum, dan Pediococcus pentosaceus dalam dadiah membawa manfaat luar biasa bagi kesehatan tubuh, khususnya pada sistem pencernaan. Mereka membantu menyeimbangkan flora usus, memperkuat sistem imun, melawan bakteri jahat, serta memproduksi vitamin B dan senyawa antimikroba alami. Tidak heran jika konsumsi dadiah secara rutin dapat mencegah diare, memperlancar pencernaan, dan meningkatkan penyerapan nutrisi.
Lebih jauh lagi, manfaat kesehatan dadiah telah dibuktikan oleh berbagai penelitian ilmiah maupun praktik empiris masyarakat Minangkabau. Dadiah diketahui mampu menurunkan kadar kolesterol, menjaga kesehatan jantung, dan memperkuat struktur tulang serta gigi berkat kandungan kalsium dan magnesium yang tinggi. Probiotik dalam dadiah juga berperan sebagai benteng kekebalan tubuh yang efektif, mengurangi risiko infeksi, dan mempercepat proses penyembuhan. Tak hanya itu, ada potensi besar dalam kandungan antioksidannya untuk mencegah kanker usus serta memperbaiki kondisi mental dengan menekan hormon stres seperti kortisol. Bahkan, konsumsi dadiah secara teratur diyakini dapat membantu mengelola berat badan secara alami serta menjaga kesehatan mulut dari gangguan bakteri patogen.
Namun, potensi dadiah tidak berhenti di aspek kesehatan semata. Produk ini juga menyimpan peluang besar dalam mendorong ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi lokal. Dadiah adalah contoh sempurna bahwa pangan lokal bisa bergizi tinggi, mudah dibuat, ramah lingkungan, sekaligus bernilai jual tinggi. Pengembangan produk turunan seperti stik dadiah, nugget dadiah, atau bahkan yoghurt berbasis dadiah dapat membuka ceruk pasar baru sekaligus menambah nilai ekonomi bagi peternak kerbau dan pelaku UMKM, terutama di wilayah asalnya di Ranah Minang.
Sayangnya, di luar Sumatera Barat, eksistensi dadiah masih terbilang marginal. Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal, apalagi mengonsumsi produk istimewa ini. Oleh karena itu, diperlukan strategi edukasi dan promosi yang masif dan kreatif agar dadiah bisa dikenal secara luas sebagai bagian dari solusi pangan sehat nasional. Keterlibatan pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan media sangat krusial dalam mewujudkan transformasi dadiah dari sekadar produk lokal menjadi ikon gizi nasional.
Hari Susu Nusantara adalah momentum yang tepat untuk kembali menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga, mengembangkan, dan membanggakan pangan tradisional seperti dadiah. Dengan kekayaan protein, mineral, dan probiotik alaminya, dadiah layak menjadi bagian dari pola makan sehat bangsa. Mari kita rawat warisan ini, bukan hanya sebagai kebanggaan kuliner, tetapi sebagai senjata gizi untuk masa depan Indonesia yang lebih sehat, lebih mandiri, dan lebih kuat.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Peternakan UNAND Padang