• Home
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • International
  • Peristiwa
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Pariwisata
  • Teknologi
  • Agama
  • Kesehatan
  • Infrastruktur
  • Loker
Portal Berita Unggulan > Blog > Cerpen > DERITA DI PUNCAK BAHAGIA
CerpenNews

DERITA DI PUNCAK BAHAGIA

editor
Last updated: 18/05/2026 06:37
editor
91 Views
Share
5 Min Read
SHARE

 

Karya: TEUKU HUSAINI

 

Malam itu langit Kota Padang dihiasi gerimis tipis. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal basah. Di sebuah rumah sederhana di pinggir kota, seorang pria bernama Rendra duduk termenung di beranda. Tatapannya kosong menembus hujan, sementara di dalam rumah terdengar suara tawa kecil anak perempuannya, Nayla.

Bagi orang lain, hidup Rendra terlihat sempurna. Ia memiliki usaha yang mulai maju, seorang istri cantik bernama Melati, dan seorang anak yang lucu. Namun tak seorang pun tahu, di balik senyum yang selalu ia tunjukkan, tersimpan luka yang perlahan menggerogoti hatinya.

Dulu Rendra hanyalah pemuda miskin dari kampung kecil. Ia bekerja apa saja demi bertahan hidup. Pernah menjadi kuli bangunan, sopir angkot, bahkan penjaga warung malam. Dalam perjuangan keras itulah ia bertemu Melati, gadis sederhana yang setia menemaninya dari nol.

“Aku percaya suatu hari nanti hidup kita akan berubah,” kata Melati suatu malam ketika mereka hanya makan nasi dengan telur dadar.

Kalimat itu menjadi semangat bagi Rendra. Ia bekerja tanpa mengenal lelah. Tahun demi tahun berlalu, usahanya berkembang. Mereka akhirnya memiliki rumah sendiri dan hidup berkecukupan. Kebahagiaan yang dulu hanya mimpi kini nyata di depan mata.

Namun manusia sering lupa, bahwa di puncak bahagia kadang Tuhan menguji dengan derita paling dalam.

Suatu pagi, ketika Rendra sedang bersiap pergi ke kantor, Melati tiba-tiba jatuh pingsan di dapur. Tubuhnya dingin dan wajahnya pucat. Dengan panik Rendra membawa istrinya ke rumah sakit.

Hasil pemeriksaan membuat dunia Rendra runtuh.

“Maaf Pak, istri Anda mengidap kanker stadium akhir,” ucap dokter pelan.

Rendra terdiam. Kata-kata dokter terasa seperti petir yang menyambar dadanya. Ia menatap Melati yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wanita yang selama ini menjadi alasan ia bertahan hidup kini sedang menunggu waktu.

Sejak hari itu hidup Rendra berubah. Rumah yang dulu penuh tawa perlahan dipenuhi kesedihan. Ia tetap tersenyum di depan anaknya, tetapi diam-diam menangis setiap malam di mushala kecil rumah mereka.

Melati justru terlihat lebih tabah.

“Jangan sedih terus, Bang,” katanya lirih sambil menggenggam tangan Rendra. “Aku bahagia pernah hidup bersamamu.”

Rendra menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Hari-hari berlalu begitu cepat. Rambut Melati mulai rontok akibat kemoterapi. Tubuhnya semakin kurus. Namun wanita itu tetap berusaha tersenyum demi suami dan anaknya.

Suatu malam Nayla menghampiri ibunya sambil membawa gambar keluarga yang ia buat di sekolah.

“Ini Ayah, Ibu, sama Nayla,” katanya polos.

Melati memeluk anak kecil itu dengan mata berkaca-kaca. Rendra yang melihat dari pintu kamar langsung memalingkan wajah agar tangisnya tidak terlihat.

Di tengah perjuangan melawan penyakit, usaha Rendra mulai berantakan. Ia terlalu sering meninggalkan pekerjaan demi menjaga istrinya. Rekan bisnisnya satu per satu pergi. Hutang mulai menumpuk.

Namun semua itu tidak lebih menyakitkan dibanding melihat Melati semakin lemah setiap hari.

Hingga akhirnya malam yang paling ditakuti itu datang.

Hujan turun deras disertai petir. Melati memanggil Rendra pelan.

“Bang…”

“Iya, Mel…”

“Kalau nanti aku pergi… jangan berhenti bahagia ya.”

Rendra menggenggam tangan istrinya erat.

“Jangan bicara begitu. Kamu pasti sembuh.”

Melati tersenyum tipis.

“Aku cuma titip Nayla…”

Kalimat itu menjadi kata terakhirnya.

Monitor rumah sakit berbunyi panjang. Dunia Rendra seakan berhenti. Ia memeluk tubuh istrinya sambil menangis sejadi-jadinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kalah.

Hari pemakaman berlangsung dalam suasana duka. Hujan kembali turun seolah langit ikut menangis. Rendra berdiri di depan pusara Melati dengan tubuh lemas. Nayla kecil menggenggam tangannya.

“Kenapa Ibu tidur lama sekali, Yah?” tanya anak itu polos.

Rendra tak mampu menjawab. Dadanya terasa sesak.

Bulan-bulan setelah kepergian Melati menjadi masa paling berat dalam hidupnya. Rumah terasa sunyi. Tak ada lagi suara lembut yang membangunkannya pagi hari. Tak ada lagi senyum yang menyambutnya pulang malam.

Namun di tengah derita itu, Rendra sadar satu hal.

Bahagia bukan berarti hidup tanpa luka.

Bahagia adalah ketika seseorang pernah memiliki cinta yang tulus, meski akhirnya harus kehilangan.

Suatu sore Rendra duduk di makam Melati bersama Nayla. Angin bertiup lembut membawa aroma tanah basah sehabis hujan.

“Ayah kangen Ibu?” tanya Nayla.

Rendra tersenyum tipis sambil menatap langit.

“Iya… sangat kangen.”

“Kalau begitu jangan sedih terus. Kata Ibu, Ayah harus tetap bahagia.”

Air mata Rendra jatuh perlahan. Ia memeluk anaknya erat.

Di puncak kebahagiaan hidupnya, ia memang pernah dihancurkan oleh derita. Tetapi cinta Melati akan selalu hidup di dalam hatinya, menjadi cahaya yang menuntunnya untuk tetap kuat menjalani sisa kehidupan.

You Might Also Like

17 Hari Jelang Pencoblosan Pilkada Riau 2024, TIM CS Ditlantas Polda Riau Ajak Masyarakat Riau Tidak Golput*
*Fantastis! 270 Pembalap Ikuti Dragbike Policing Sessions VIII di Sirkuit Sport Center Stadion Rumbai*
Kepala SMKN 2 Mandau Bersama Shokaido Riau Coaching Clinic Dengan Sensei Aswan Ali DAN VI SKIF
Kapolri Pastikan pengamanan, Kelayakan Kapal, dan Mitigasi Bencana Libur Natal dan Tahun Baru
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH SEGERA DIWUJUDKAN DI Kota Padang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article *DARI GAMPONG DI PIDIE, ASN KEMENAG RAIH GELAR DOKTOR LEWAT BEASISWA INDONESIA BANGKIT*
Next Article PETUALANG CINTA
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Latest News

Selidiki Dugaan Korupsi Batu Bara di PLTU Ombilin, Polda Sumbar Bakal Periksa Tiga Perusahaan Pemasok
News Polri
10/07/2026
Polda Sumbar Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Batubara PLTU Ombilin Sawahlunto 
News Polri
10/07/2026
Silaturahmi dengan Warga Ranah Salido, Darman Lubis Paparkan Visi Membangun Nagari yang Maju
News
10/07/2026
*PADANG MENUJU PANGGUNG DUNIA, FADLY AMRAN BOYONG REKTOR SE-KOTA PADANG JAJAKI PROGRAM DUAL DEGREE DENGAN FOSHAN POLYTECHNIC CHINA*  
News
10/07/2026

You Might also Like

News

Sedekah Menuju Surga (SMS) Inovasi Tiada Henti dari SMPN 9 Padang

20/08/2024
401 Views
AgamaNasionalNews

Yan Vinanda, SH, Kembali terpilih Sebagai Ketua DMI Kecamatan Padang Timur

16/09/2025
688 Views
DaerahNasionalNews

Polda Sumbar Gelar Rakor Lintas Sektoral Operasi Ketupat Singgalang 2026, Fokus Mitigasi Infrastruktur Pasca-Bencana

07/03/2026
106 Views
NewsSeni

AZLAN DAN AISYAH: CAHAYA DI JALAN YANG DIRESTUI

12/04/2026
114 Views

SinyalGoNews.com © 2024 All rights Reserved. made with ❤️ by Xweb.co.id

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?