Karya: TEUKU HUSAINI
Malam itu langit Kota Padang dihiasi gerimis tipis. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal basah. Di sebuah rumah sederhana di pinggir kota, seorang pria bernama Rendra duduk termenung di beranda. Tatapannya kosong menembus hujan, sementara di dalam rumah terdengar suara tawa kecil anak perempuannya, Nayla.
Bagi orang lain, hidup Rendra terlihat sempurna. Ia memiliki usaha yang mulai maju, seorang istri cantik bernama Melati, dan seorang anak yang lucu. Namun tak seorang pun tahu, di balik senyum yang selalu ia tunjukkan, tersimpan luka yang perlahan menggerogoti hatinya.
Dulu Rendra hanyalah pemuda miskin dari kampung kecil. Ia bekerja apa saja demi bertahan hidup. Pernah menjadi kuli bangunan, sopir angkot, bahkan penjaga warung malam. Dalam perjuangan keras itulah ia bertemu Melati, gadis sederhana yang setia menemaninya dari nol.
“Aku percaya suatu hari nanti hidup kita akan berubah,” kata Melati suatu malam ketika mereka hanya makan nasi dengan telur dadar.
Kalimat itu menjadi semangat bagi Rendra. Ia bekerja tanpa mengenal lelah. Tahun demi tahun berlalu, usahanya berkembang. Mereka akhirnya memiliki rumah sendiri dan hidup berkecukupan. Kebahagiaan yang dulu hanya mimpi kini nyata di depan mata.
Namun manusia sering lupa, bahwa di puncak bahagia kadang Tuhan menguji dengan derita paling dalam.
Suatu pagi, ketika Rendra sedang bersiap pergi ke kantor, Melati tiba-tiba jatuh pingsan di dapur. Tubuhnya dingin dan wajahnya pucat. Dengan panik Rendra membawa istrinya ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan membuat dunia Rendra runtuh.
“Maaf Pak, istri Anda mengidap kanker stadium akhir,” ucap dokter pelan.
Rendra terdiam. Kata-kata dokter terasa seperti petir yang menyambar dadanya. Ia menatap Melati yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wanita yang selama ini menjadi alasan ia bertahan hidup kini sedang menunggu waktu.
Sejak hari itu hidup Rendra berubah. Rumah yang dulu penuh tawa perlahan dipenuhi kesedihan. Ia tetap tersenyum di depan anaknya, tetapi diam-diam menangis setiap malam di mushala kecil rumah mereka.
Melati justru terlihat lebih tabah.
“Jangan sedih terus, Bang,” katanya lirih sambil menggenggam tangan Rendra. “Aku bahagia pernah hidup bersamamu.”
Rendra menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Rambut Melati mulai rontok akibat kemoterapi. Tubuhnya semakin kurus. Namun wanita itu tetap berusaha tersenyum demi suami dan anaknya.
Suatu malam Nayla menghampiri ibunya sambil membawa gambar keluarga yang ia buat di sekolah.
“Ini Ayah, Ibu, sama Nayla,” katanya polos.
Melati memeluk anak kecil itu dengan mata berkaca-kaca. Rendra yang melihat dari pintu kamar langsung memalingkan wajah agar tangisnya tidak terlihat.
Di tengah perjuangan melawan penyakit, usaha Rendra mulai berantakan. Ia terlalu sering meninggalkan pekerjaan demi menjaga istrinya. Rekan bisnisnya satu per satu pergi. Hutang mulai menumpuk.
Namun semua itu tidak lebih menyakitkan dibanding melihat Melati semakin lemah setiap hari.
Hingga akhirnya malam yang paling ditakuti itu datang.
Hujan turun deras disertai petir. Melati memanggil Rendra pelan.
“Bang…”
“Iya, Mel…”
“Kalau nanti aku pergi… jangan berhenti bahagia ya.”
Rendra menggenggam tangan istrinya erat.
“Jangan bicara begitu. Kamu pasti sembuh.”
Melati tersenyum tipis.
“Aku cuma titip Nayla…”
Kalimat itu menjadi kata terakhirnya.
Monitor rumah sakit berbunyi panjang. Dunia Rendra seakan berhenti. Ia memeluk tubuh istrinya sambil menangis sejadi-jadinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kalah.
Hari pemakaman berlangsung dalam suasana duka. Hujan kembali turun seolah langit ikut menangis. Rendra berdiri di depan pusara Melati dengan tubuh lemas. Nayla kecil menggenggam tangannya.
“Kenapa Ibu tidur lama sekali, Yah?” tanya anak itu polos.
Rendra tak mampu menjawab. Dadanya terasa sesak.
Bulan-bulan setelah kepergian Melati menjadi masa paling berat dalam hidupnya. Rumah terasa sunyi. Tak ada lagi suara lembut yang membangunkannya pagi hari. Tak ada lagi senyum yang menyambutnya pulang malam.
Namun di tengah derita itu, Rendra sadar satu hal.
Bahagia bukan berarti hidup tanpa luka.
Bahagia adalah ketika seseorang pernah memiliki cinta yang tulus, meski akhirnya harus kehilangan.
Suatu sore Rendra duduk di makam Melati bersama Nayla. Angin bertiup lembut membawa aroma tanah basah sehabis hujan.
“Ayah kangen Ibu?” tanya Nayla.
Rendra tersenyum tipis sambil menatap langit.
“Iya… sangat kangen.”
“Kalau begitu jangan sedih terus. Kata Ibu, Ayah harus tetap bahagia.”
Air mata Rendra jatuh perlahan. Ia memeluk anaknya erat.
Di puncak kebahagiaan hidupnya, ia memang pernah dihancurkan oleh derita. Tetapi cinta Melati akan selalu hidup di dalam hatinya, menjadi cahaya yang menuntunnya untuk tetap kuat menjalani sisa kehidupan.