Karya: Teuku Husaini
Malam turun perlahan di Kota Padang. Lampu-lampu jalan berkilau diterpa gerimis kecil, sementara ombak pantai memukul batu dengan suara lirih seperti nyanyian rindu. Di sebuah warung kopi sederhana dekat pantai, duduk seorang lelaki bernama Rendra.
Rendra dikenal sebagai petualang. Bukan petualang harta, melainkan petualang cinta. Ia telah berkelana dari kota ke kota, dari hati ke hati, mencari perempuan yang mampu membuat jiwanya berhenti mengembara.
Namun semakin jauh ia berjalan, semakin ia merasa kosong.
“Cinta bukan sekadar wajah cantik,” gumamnya sambil menatap hujan.
Suatu malam, ketika hujan semakin deras, masuklah seorang perempuan berjilbab biru muda ke warung kopi itu. Namanya Alya. Tatapannya teduh, senyumnya sederhana, tetapi mampu membuat dada Rendra bergetar.
“Bangku ini kosong?” tanya Alya pelan.
Rendra mengangguk cepat. “Silakan.”
Percakapan mereka dimulai dari hal-hal kecil: hujan, kopi, dan perjalanan hidup. Tapi entah mengapa, malam itu terasa berbeda bagi Rendra. Ia yang biasanya pandai merayu perempuan justru gugup di depan Alya.
“Apa yang sedang kau cari dalam hidup?” tanya Alya.
Rendra terdiam cukup lama.
“Mungkin… seseorang yang membuatku pulang.”
Alya tersenyum kecil.
“Kalau begitu, berhentilah menjadi petualang yang takut menetap.”
Kata-kata itu menghantam hati Rendra seperti ombak besar. Selama ini ia berpindah-pindah bukan karena belum menemukan cinta, tetapi karena takut terluka.
Hari-hari berikutnya mereka semakin dekat. Mereka berjalan di pantai, menikmati matahari tenggelam, dan saling bercerita tentang masa lalu. Alya pernah disakiti, sedangkan Rendra terlalu sering meninggalkan.
Untuk pertama kalinya, Rendra belajar setia pada satu hati.
Namun cinta tak pernah berjalan tanpa ujian.
Suatu pagi Alya menghilang tanpa kabar. Nomor teleponnya tidak aktif. Rumah kontrakannya kosong. Rendra panik. Ia mencari ke mana-mana seperti orang kehilangan arah.
Seminggu kemudian, sebuah surat datang.
“Rendra, aku pergi bukan karena tak cinta. Aku hanya ingin tahu, apakah kau benar-benar mampu memperjuangkan seseorang atau hanya singgah sebentar seperti sebelumnya.”
Rendra mengepalkan surat itu. Ia sadar, inilah perjalanan terbesar dalam hidupnya. Bukan mendaki gunung atau menyeberangi lautan, melainkan menaklukkan ego sendiri.
Ia pun mencari Alya hingga ke sebuah desa kecil di kaki bukit di Bukittinggi.
Saat akhirnya bertemu, Alya sedang duduk di taman bunga.
“Kau datang juga,” ucap Alya pelan.
“Aku sudah lelah menjadi petualang cinta,” jawab Rendra sambil menatap mata perempuan itu. “Sekarang aku hanya ingin menjadi rumah bagi satu hati.”
Air mata Alya jatuh perlahan.
Mereka pun berpelukan di bawah langit sore yang keemasan. Angin bukit berhembus lembut membawa aroma bunga dan harapan baru.
Sejak hari itu, Rendra tidak lagi dikenal sebagai petualang cinta yang berpindah-pindah hati.
Ia telah menemukan tujuan terakhir perjalanannya: cinta yang sederhana, tetapi tulus dan menetap selamanya.