Oleh: DR. H. GAMAWAN FAUZI, MH. Datuk Nan Sati
Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi hari ini telah menjadi salah satu ikon kebanggaan masyarakat Sumatera Barat. Bangunan megah yang berdiri di Kota Padang itu tidak hanya dikenal sebagai pusat ibadah umat Islam, tetapi juga sebagai simbol perpaduan adat Minangkabau, nilai keislaman, dan kemajuan arsitektur modern Nusantara.
Namun di balik kemegahan yang kini dikagumi banyak orang, perjalanan lahirnya masjid raya tersebut ternyata tidak selalu berjalan mulus. Pada awal perencanaan pembangunan, muncul berbagai kritik dan perdebatan di tengah masyarakat. Salah satu yang paling banyak dipersoalkan ketika itu adalah keputusan desain masjid yang tidak menggunakan kubah sebagaimana lazimnya bangunan masjid di berbagai daerah.
Sebagian masyarakat pada waktu itu beranggapan bahwa masjid seharusnya identik dengan kubah besar di bagian atas bangunan. Karena itu, ketika desain Masjid Raya Sumbar diperkenalkan tanpa kubah utama, muncul pertanyaan bahkan penolakan dari sejumlah pihak.
Padahal sesungguhnya, kubah bukanlah syarat utama sebuah masjid.
Dalam berbagai kesempatan, mantan Gubernur Sumatera Barat, DR. H. Gamawan Fauzi, MH. Datuk Nan Sati menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat mengenai kubah sering kali terbentuk karena pengaruh arsitektur Timur Tengah yang berkembang luas di berbagai negara Islam. Sementara dalam sejarah Islam sendiri, bentuk masjid memiliki ragam arsitektur sesuai budaya masing-masing daerah.
Menurut Gamawan Fauzi, ketika proses pembangunan Masjid Raya Sumbar dimulai, dirinya sempat menjelaskan kepada masyarakat bahwa banyak masjid tua di Sumatera Barat sebelum masa kemerdekaan justru tidak menggunakan kubah. Setelah dilakukan penelusuran terhadap sejarah arsitektur masjid di Ranah Minang, ternyata dari puluhan masjid kuno yang ada, hanya sekitar empat masjid yang memiliki kubah. Selebihnya menggunakan bentuk atap bergonjong khas Minangkabau.
Fakta sejarah tersebut memperlihatkan bahwa identitas arsitektur Islam di Minangkabau sejak dahulu memang lebih dekat dengan bentuk rumah gadang dan atap bergonjong dibandingkan kubah ala Timur Tengah.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama para tokoh agama dan budayawan ketika itu sepakat bahwa masjid raya provinsi harus menampilkan identitas budaya Minangkabau yang kuat. Lahirlah gagasan menghadirkan desain masjid tanpa kubah dengan bentuk atap menyerupai gonjong rumah gadang.
Keputusan tersebut akhirnya menjadi ciri khas yang membedakan Masjid Raya Sumbar dari masjid-masjid besar lainnya di Indonesia maupun dunia.
Arsitektur masjid dirancang dengan filosofi yang sangat mendalam. Lekukan atap bangunan yang melengkung megah dipercaya terinspirasi dari kisah peletakan Hajar Aswad pada masa Rasulullah SAW, ketika para pemuka Quraisy membentangkan kain bersama-sama untuk mengangkat batu mulia tersebut. Filosofi itu melambangkan musyawarah, persatuan, dan kebersamaan.
Di sisi lain, bentuk gonjong yang dihadirkan dalam desain masjid menjadi simbol kuat budaya Minangkabau yang menjunjung tinggi falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.”
Awalnya, keputusan tidak memakai kubah sempat menuai kritik. Namun seiring waktu, masyarakat mulai memahami bahwa masjid bukan diukur dari ada atau tidaknya kubah, melainkan dari fungsi, nilai spiritual, dan filosofi yang dikandungnya.
Gamawan Fauzi bahkan pernah menyampaikan analogi sederhana bahwa banyak bangunan di dunia juga menggunakan kubah, bukan hanya masjid. Gedung Putih di Amerika Serikat memiliki kubah. Kremlin di Rusia juga berkubah. Karena itu, kubah bukanlah identitas mutlak sebuah rumah ibadah Islam.
Kini, waktu membuktikan bahwa keputusan menghadirkan desain tanpa kubah justru menjadi kekuatan utama Masjid Raya Sumbar di mata dunia.
Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi saat ini dikenal luas sebagai salah satu karya arsitektur masjid modern paling unik di dunia. Keindahan desainnya yang memadukan budaya lokal dengan nuansa Islam kontemporer membuat masjid tersebut mendapat perhatian internasional.
Bahkan, masjid ini pernah dinilai sebagai salah satu dari tujuh masjid dengan arsitektur terbaik di dunia. Pengakuan tersebut menjadi kebanggaan besar bagi masyarakat Sumatera Barat sekaligus membuktikan bahwa arsitektur Islam Nusantara mampu tampil sejajar di tingkat internasional.
Keunikan bangunan masjid tidak hanya terlihat dari kejauhan, tetapi juga terasa ketika memasuki kawasan utamanya. Struktur bangunan yang luas, interior bernuansa Islami modern, serta ornamen khas Minangkabau menghadirkan suasana religius sekaligus kental dengan identitas budaya daerah.
Selain menjadi pusat ibadah, Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi juga berkembang sebagai pusat kegiatan dakwah, pendidikan Islam, seminar, tabligh akbar, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Ribuan jamaah rutin memadati kawasan masjid, terutama saat pelaksanaan salat Jumat, Ramadan, dan hari besar Islam.
Masjid ini juga menjadi destinasi wisata religi unggulan di Sumatera Barat. Banyak wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara datang untuk melihat langsung kemegahan arsitekturnya yang berbeda dari kebanyakan masjid lain.
Penamaan masjid tersebut juga memiliki makna sejarah yang sangat penting. Nama Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi diabadikan sebagai penghormatan kepada ulama besar asal Minangkabau yang pernah menjadi imam di Masjidil Haram, Makkah. Beliau dikenal sebagai tokoh ulama besar yang melahirkan banyak pemikir dan pejuang Islam Nusantara.
Kini, Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, tetapi juga simbol keberhasilan menghadirkan perpaduan harmonis antara adat, agama, dan modernitas.
Masjid ini membuktikan bahwa identitas budaya lokal tidak harus hilang dalam pembangunan zaman modern. Justru dengan mempertahankan ciri khas daerah, sebuah karya dapat memiliki nilai yang lebih tinggi dan dihormati dunia internasional.
Dari Ranah Minang, lahirlah sebuah pesan penting bagi generasi masa kini: bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan akar budaya dan jati diri bangsa.
Editor : TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com