Karya tulis: TEUKU HUSAINI
Sinyalnews.com
Hujan turun perlahan membasahi atap rumah kayu di pinggir kampung. Malam itu begitu sunyi. Hanya suara angin dan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang terdengar dari kamar kecil di ujung rumah.
Di sana, seorang ibu tua duduk di atas sajadah lusuh. Tangannya yang mulai keriput menengadah ke langit. Air matanya jatuh perlahan.
“Ya Allah… jagalah anakku di mana pun ia berada…”
Namanya Maryam. Seorang janda yang hidup sederhana sejak suaminya wafat bertahun-tahun lalu. Ia hanya memiliki satu anak lelaki bernama Rahman. Anak itu dahulu rajin mengaji dan sering menemani ibunya ke surau. Namun setelah merantau ke kota, Rahman mulai jarang pulang.
Bahkan salat pun sering ia tinggalkan.
Tetangga sering mendengar Maryam menangis selepas tahajud. Bukan menangisi kemiskinan. Bukan pula karena tubuhnya yang sakit-sakitan. Tetapi karena takut anaknya jauh dari Allah.
Setiap malam ia selalu berdoa.
“Ya Rabb… jangan biarkan anakku tersesat oleh dunia.”
Suatu hari, Rahman datang pulang. Wajahnya kusut. Matanya merah. Ia memeluk ibunya erat sambil menangis seperti anak kecil.
“Ibu… Rahman banyak dosa…”
Maryam terkejut. Dengan tangan gemetar ia mengusap kepala anaknya.
“Ada apa, Nak?”
Rahman menangis semakin keras.
“Aku lupa salat… aku lupa mengaji… aku terlalu mengejar dunia. Tapi tadi malam aku bermimpi Ayah datang. Ayah berkata, ‘Jangan biarkan ibumu menangis sendirian meminta keselamatanmu.’”
Mendengar itu, tubuh Maryam bergetar. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Ibu tidak pernah berhenti mendoakanmu, Nak.”
Rahman menunduk. Ia melihat sajadah lusuh ibunya yang basah oleh air mata. Di sampingnya ada Al-Qur’an tua yang mulai usang.
Hatinya hancur.
Selama ini ia sibuk mencari harta, sementara ibunya menghabiskan malam demi malam memohon kepada Allah agar dirinya kembali ke jalan-Nya.
Sejak hari itu Rahman berubah. Ia kembali salat berjamaah di surau kampung. Ia mulai membaca Al-Qur’an bersama ibunya setiap selesai Magrib.
Dan setiap kali melihat ibunya berdoa, Rahman selalu sadar bahwa tidak ada cinta paling tulus di dunia selain doa seorang ibu.
Sebab ketika dunia mulai menjauh, ketika manusia datang dan pergi, masih ada satu suara yang diam-diam mengetuk langit untuk keselamatan kita.
Suara itu adalah doa ibu.