Padang, Sinyalgonews.com,--Hari Susu Nusantara (HSN) yang diperingati setiap 1 Juni mestinya tidak hanya menjadi ajakan untuk rutin minum susu, tetapi juga menjadi ruang refleksi: bagaimana agar Indonesia tak terus-menerus bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan susunya. Fakta hari ini, lebih dari 78 persen susu yang beredar di pasaran adalah produk impor, sementara konsumsi per kapita dalam negeri masih berada di angka yang rendah, sekitar 11 kilogram per tahun.
Di tengah tekanan ini, muncul pertanyaan penting: apakah sumber susu kita harus selalu datang dari sapi? Jawaban yang layak dipertimbangkan adalah kambing perah. Selama ini, kambing kerap diposisikan hanya sebagai peliharaan rakyat kecil, padahal jika dibina dengan baik, ia dapat menjadi pilar penting dalam penyediaan susu lokal. Salah satu jenis yang sudah lama dikembangkan di Indonesia adalah kambing Peranakan Etawah (PE). Tipe ini tidak hanya menghasilkan daging, tetapi juga susu dengan volume harian berkisar 1,5 hingga 3 liter per ekor.
Belakangan ini, masyarakat juga mulai melirik kambing Saanen—ras asal Swiss yang dikenal sebagai “sapi perah dalam wujud kambing”. Produksi susunya bisa mencapai 3 hingga 5 liter per hari, bahkan lebih pada kondisi lingkungan dan pakan yang optimal. Saanen menjadi primadona baru dalam peternakan rakyat karena sifatnya jinak, mudah dikontrol, dan dapat tumbuh baik di dataran tinggi Indonesia. Tak sedikit peternak pemula yang mulai berinvestasi pada jenis ini, khususnya di kawasan Agropolitan dan peternakan edukatif berbasis wisata.
Kambing perah memiliki keunggulan praktis yang sulit disaingi sapi. Ia dapat dipelihara dengan modal lebih kecil, lahan yang terbatas, serta mampu memanfaatkan hijauan lokal yang tidak selalu harus dibeli. Dari sisi pakan, hijauan seperti turi, kaliandra, dan rumput gajah cukup tersedia di sekitar pekarangan. Susu kambing pun dikenal lebih mudah dicerna, dan cocok bagi penderita intoleransi laktosa. Karena itulah, permintaan susu kambing terus tumbuh, terutama dari segmen keluarga muda dan pelaku usaha pangan sehat.
Namun, untuk mewujudkan potensi ini, masih ada pekerjaan rumah besar. Berdasarkan hasil kunjungan saya ke Peternakan Kambing Jujur di Korong Gadang, Kuranji, produksi susu masih berkisar 600 hingga 1.500 ml per hari—jauh di bawah kemampuan genetiknya. Salah satu sebabnya adalah manajemen pakan dan kebersihan kandang yang belum optimal. Peternak sering kali terlalu mengandalkan konsentrat dan lalai memberikan hijauan berkualitas. Padahal, hijauan adalah sumber utama asetat yang diperlukan dalam pembentukan lemak susu, salah satu penentu kualitas susu kambing.
Kebersihan kandang juga menjadi penentu penting mutu susu. Kambing yang dipelihara dalam kandang lembap dan kotor lebih rentan terkena mastitis dan menghasilkan susu yang mudah terkontaminasi mikroba. Di sinilah pentingnya penyuluhan dan pelatihan praktis—tidak hanya teori, tetapi panduan langsung tentang sanitasi, pemerahan higienis, dan penyusunan ransum seimbang. Kombinasi pakan yang ideal (60% hijauan dan 40% konsentrat), serta disesuaikan dengan fase fisiologis kambing, seperti bunting, menyusui, atau masa kering kandang, akan berpengaruh besar terhadap produktivitas.
Momentum Hari Susu Nusantara 2025 ini harus menjadi pintu masuk bagi transformasi paradigma. Bahwa susu lokal bukan hanya urusan sapi dan industri besar, tapi juga tentang kambing-kambing tangguh di kandang rakyat. Baik PE yang sudah mapan, maupun Saanen yang mulai digemari, keduanya menyimpan peluang besar untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis peternakan rakyat.
Sudah saatnya petani kecil dilibatkan lebih luas dalam gerakan susu nasional. Mereka tak hanya perlu diberi bantuan ternak, tapi juga akses pada ilmu praktis, pendampingan teknis, dan jalur pemasaran. Karena bisa jadi, masa depan susu Indonesia tidak berada di pabrik, tapi di kandang-kandang bersahaja yang dirawat dengan hati dan pengetahuan. Dan mungkin, segelas susu terbaik untuk generasi masa depan, sedang menunggu diperah dari seekor kambing di belakang rumah kita sendiri.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang
(**)