Padang, Sinyalgonews.com,–Silaturahmi bukan sekadar tradisi, melainkan napas kehidupan yang menjaga marwah manusia tetap tegak dalam nilai-nilai agama dan adat. Dalam konteks Sumatera Barat, silaturahmi memiliki makna yang lebih dalam: ia adalah jembatan antara hati, akal, dan tanggung jawab sosial.
Kehadiran sosok Tengku Mohd Yaccob bin Tengku Mohd Yusof Shah dalam pelaksanaan shalat Iedul Adha 1447 H di Mesjid Ikhlas Tabek Gunung Pangilun menjadi contoh nyata bagaimana silaturahmi mampu menghidupkan kembali nilai-nilai luhur di tengah tantangan zaman.
Tengku Mohd Yaccob bin Tengku Mohd Yusof Shah suami dari.Yelfa Zelita Binti Alizar Zein.Eva warga Tabek Gunung Pangilun adalah figur yang merawat hubungan umat dengan penuh ketulusan. Dalam setiap kesempatan, baik lebaran atau acara keluarga lainnya, beliau selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Padang.
Beliau selalu menekankan pentingnya menjaga ukhuwah, memperkuat persaudaraan, dan menghindari perpecahan. Silaturahmi yang beliau bangun bukan basa-basi, melainkan ruang dialog yang jujur, tempat menyatukan dua keluarga yang berbeda negara, Malaysia dan Indonesia.
Marwah kehidupan, dalam pandangan beliau, terletak pada kemampuan manusia menjaga kehormatan diri, keluarga, dan masyarakat. Dan itu tidak akan terwujud tanpa adanya hubungan yang harmonis antar sesama. Silaturahmi menjadi kunci utama. Ketika hubungan renggang, fitnah mudah tumbuh. Ketika komunikasi terputus, prasangka menjadi racun. Namun saat silaturahmi dijaga, segala persoalan dapat dicarikan jalan keluarnya dengan kepala dingin dan hati yang lapang.
Sementara Pimpinan Redaksi Sinyalgonews.com, Marlim menegaskan bahwa silaturahmi harus melampaui sekat-sekat kepentingan. Tidak boleh dibatasi oleh politik, perbedaan pandangan, atau perbedaan negara. “Meski kita berbeda negara, tapi kita disatukan oleh aqidah yang sama, yakni Islam” ujar Marlim.
Silaturahmi bersama “Sumando Tabek Gunung Pangilun” Tengku Mohd Yaccob bin Tengku Mohd Yusof Shah bukan hanya pertemuan biasa, tetapi momentum untuk merefleksikan diri: sejauh mana kita menjaga marwah persaudaraan antar dua negara
Pada akhirnya, silaturahmi adalah warisan yang harus terus dirawat. Ia bukan hanya menghubungkan manusia dengan manusia, tetapi juga mendekatkan manusia kepada Tuhan. Dalam setiap jabat tangan, ada doa. Dalam setiap pertemuan, ada harapan. Dan dalam setiap silaturahmi yang tulus, di sanalah marwah kehidupan menemukan maknanya yang sejati
(T.Husaini)