Jakarta, Sinyalgonews.com,— Seorang dai dan mualaf asal Indonesia, Felix Siauw, menuai kontroversi setelah pernyataannya mengenai Iran yang dinilai memperlemah narasi perjuangan Palestina. Dalam sebuah unggahan yang viral di media sosial, Felix menyebut bahwa serangan Iran ke Israel bukan didasari solidaritas terhadap Palestina, melainkan sebagai aksi balasan atas serangan yang dilancarkan ke wilayah Iran.
Felix melengkapi pernyataannya dengan narasi sejarah mengenai Cyrus Agung dan kekaisaran Persia, yang menurutnya menunjukkan bahwa Iran bukan bagian dari “umat Islam” dan tidak berpihak kepada Palestina. Tanggapan kritis pun datang dari berbagai pengamat, aktivis, dan warganet, yang menilai klaimnya tidak tepat secara historis dan berbahaya secara ideologis.
Sejarah Dukungan Iran terhadap Palestina
Sejak Revolusi Islam 1979, Iran secara terbuka memutus hubungan diplomatik dengan Israel dan menjadikan dukungan terhadap pembebasan Palestina sebagai salah satu prinsip negara. Kedutaan Besar Israel di Teheran bahkan diubah menjadi kantor perwakilan Palestina. Iran tidak hanya menunjukkan dukungan simbolik, tetapi juga memberikan bantuan nyata kepada kelompok perlawanan seperti Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman—yang dikenal sebagai jaringan “3H” dalam poros perlawanan regional terhadap Israel.
Dalam konteks serangan langsung Iran ke Israel pada April 2024—sebagai balasan atas serangan ke fasilitas diplomatik Iran di Damaskus—Iran menegaskan bahwa tindakan tersebut adalah peringatan bahwa agresi terhadap mereka tidak akan dibiarkan tanpa respons. Seorang analis Timur Tengah menyatakan, “Untuk pertama kalinya, sebuah negara Islam secara resmi dan terbuka menyerang wilayah Israel sebagai bentuk pembalasan langsung.”
Ketika Solidaritas Dipertentangkan dengan Mazhab
Sikap Felix mengundang kritik, terutama dari aktivis solidaritas Palestina di Indonesia, yang menilai ia lebih menyoroti perbedaan mazhab ketimbang fokus pada siapa yang konsisten membantu Palestina. Ahmad R., seorang pengamat isu Palestina, mengungkapkan, “Ketika rakyat Gaza membutuhkan logistik dan senjata untuk bertahan hidup, mereka tidak bertanya apakah bantuan datang dari Syiah atau Sunni. Mereka hanya tahu bahwa rudal dan sistem perlawanan datang dari Teheran.”
Felix juga mengutip pidato Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mengkritik Iran, yang dianggap sebagai langkah yang membenarkan narasi Zionis—mendorong perubahan rezim Iran agar kembali ke era hubungan diplomatik dengan Israel seperti sebelum 1979.
Iran dan “Poros Perlawanan”
Iran selama beberapa dekade terakhir dikenal sebagai negara yang aktif mendukung perjuangan Palestina, baik melalui dukungan teknologi militer, pelatihan, serta jalur logistik senjata. Laporan dari Middle East Monitor menyebutkan bahwa serangan langsung ke Israel merupakan simbol bahwa penjajahan tidak akan dibiarkan tanpa jawaban. “Hingga saat ini, belum ada satu pun negara Arab yang berani melakukan hal serupa,” tulis laporan tersebut.
Penutup
Pernyataan Felix Siauw memunculkan kembali perdebatan tentang sektarianisme dalam dunia Islam. Namun, kritik utama terhadap pernyataannya adalah minimnya pengakuan atas fakta dan sejarah dukungan Iran terhadap perjuangan Palestina, serta kecenderungan narasinya yang dianggap sejalan dengan propaganda anti-Iran dari Israel.
Dalam konteks pilihan antara penjajahan dan perlawanan, banyak pihak menilai bahwa keberanian bukan hanya soal ceramah dan dalil, tetapi juga tentang siapa yang hadir ketika Gaza dibombardir. Dan dalam hal ini, Iran—baik disukai atau tidak—telah dan terus hadir.