JAKARTA, Sinyalgonews.com — Kisah perjuangan hidup kembali menyentuh ruang publik. Seorang pria bernama Khoirul Anam, yang telah mengantongi dua gelar sarjana (S1) dan satu gelar magister (S2), memilih bekerja sebagai anggota satuan pengamanan (satpam) di salah satu kantor perbankan di kawasan Tanjung Priok, Jakarta.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Di balik seragam satpam yang ia kenakan setiap hari, Anam menyimpan cita-cita besar menjadi pengajar, baik sebagai guru maupun dosen. Namun, keterbatasan kesempatan dan ketatnya persaingan di dunia pendidikan membuatnya harus bersabar, sembari tetap bekerja secara halal dan bermartabat.
“Cita-cita saya menjadi pengajar, guru atau dosen. Tapi mungkin karena belum rezeki, dan memang agak susah juga untuk masuk ke dunia tersebut,” ungkap Anam dengan nada tenang namun penuh keteguhan.
Kisah Anam menjadi cerminan nyata kondisi dunia kerja di Indonesia, di mana tingginya pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Meski demikian, Anam memilih untuk tidak larut dalam kekecewaan. Ia justru menjadikan pekerjaannya saat ini sebagai bagian dari proses hidup yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab.
Sikap Anam menuai simpati dan apresiasi dari banyak pihak. Ia dinilai sebagai sosok yang rendah hati, pekerja keras, dan tidak gengsi bekerja, meski memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Baginya, bekerja sebagai satpam bukanlah aib, melainkan bentuk ikhtiar sambil menunggu pintu rezeki lain terbuka.
Kisah ini sekaligus menjadi pesan moral bahwa martabat seseorang tidak diukur dari jabatan, melainkan dari kejujuran, ketekunan, dan kesungguhan dalam menjalani hidup. Anam berharap, suatu hari kelak, ia dapat mengabdikan ilmunya di dunia pendidikan dan berkontribusi mencerdaskan generasi bangsa.
Hingga saat itu tiba, ia memilih tetap berdiri tegak di pos penjagaan, menjaga amanah, sembari menjaga harapan.
Editor: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com