Karya TEUKU HUSAINI
Di negeri yang katanya kaya,
rakyat justru akrab dengan luka.
Rupiah tersungkur di lantai dunia,
sementara pidato masih sibuk tepuk dada.
Harga beras melonjak seperti roket,
minyak goreng menari di atas penderitaan.
Cabe menjadi bara di dapur rakyat,
sementara meja pejabat tetap penuh hidangan.
Ibu-ibu menghitung receh dengan gemetar,
ayah pulang membawa wajah kusam.
Anak kecil belajar arti lapar,
karena harga susu berubah jadi ancaman.
Rakyat menjerit di pasar-pasar sempit,
pedagang kecil nyaris putus napas.
Setiap pagi hidup terasa pahit,
gaji habis sebelum matahari terbenam deras.
Rupiah bukan sekadar angka jatuh,
ia adalah air mata di wajah buruh.
Ia adalah doa panjang tukang ojek lusuh,
yang bensin naik, penumpang makin jauh.
Namun di gedung-gedung tinggi berpendingin dosa,
masih terdengar tawa pesta kuasa.
Mereka bicara ekonomi penuh data,
sementara rakyat membeli tempe pun harus berduka.
Negeri ini tak kekurangan hasil bumi,
yang kurang hanyalah hati nurani.
Saat uang dipeluk para durjana negeri,
rakyat kecil terus digerus inflasi.
Wahai rupiah…
berapa lama lagi kau dipermalukan?
Sampai kapan rakyat harus dikorbankan,
demi keserakahan yang tak pernah dikenyangkan?
Jeritan rakyat kini bukan puisi semata,
tetapi suara luka dari perut yang kosong.
Jika penguasa masih tuli mendengar derita,
maka sejarah akan mencatat:
bangsa ini pernah hancur oleh kerakusan orang-orang sombong.