Oleh: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com,–Gelombang informasi liar kembali menunjukkan wajah aslinya: cepat, bising, dan seringkali menyesatkan. Kali ini, mobil listrik dijadikan kambing hitam atas insiden kereta di Bekasi Timur. Tanpa verifikasi, tanpa data utuh, publik langsung diarahkan pada satu kesimpulan dangkal—seolah teknologi adalah biang masalah.
Narasi yang beredar menyebut kendaraan listrik tidak bisa didorong, mudah terbakar, dan lebih berbahaya di perlintasan rel. Bahkan, merek seperti VinFast ikut terseret dalam pusaran tuduhan. Padahal, hingga kini belum ada satu pun pernyataan resmi dari PT Kereta Api Indonesia yang menegaskan hal tersebut sebagai penyebab utama kecelakaan.
Ini bukan sekadar salah informasi. Ini adalah bentuk pembodohan publik yang dibungkus seolah-olah edukasi.
Logika yang Dipelintir
Mari kita berpikir jernih. Sejak kapan kecelakaan di perlintasan rel ditentukan oleh jenis kendaraan? Fakta berbicara lain. Sudah puluhan tahun, kecelakaan terjadi karena satu hal klasik: kelalaian manusia.
Mobil bensin, truk, bahkan sepeda motor—semuanya pernah menjadi korban di rel kereta. Apakah lantas kita menyalahkan mesin bensin? Tidak. Karena kita tahu, akar masalahnya adalah perilaku.
Namun anehnya, ketika teknologi baru muncul, kita buru-buru mencari kambing hitam. Mobil listrik menjadi sasaran empuk—karena masih dianggap asing oleh sebagian masyarakat.
Ketakutan yang Dibesar-besarkan
Istilah seperti autolock, thermal runaway, hingga tegangan listrik KRL dijadikan amunisi untuk menakut-nakuti publik. Padahal, itu adalah kemungkinan teknis dalam kondisi ekstrem—bukan kejadian rutin yang pasti terjadi.
Jika logika ini dipakai, maka semua kendaraan adalah ancaman. Tangki bensin bisa meledak. Mesin bisa terbakar. Rem bisa blong. Tapi kita tidak pernah membuat narasi bahwa mobil konvensional adalah “bahaya utama”.
Mengapa standar berpikir kita tiba-tiba berubah saat berhadapan dengan mobil listrik?
Masalah Sebenarnya: Disiplin Nol
Mari jujur. Berapa banyak pengemudi yang:
Tetap menerobos perlintasan saat lampu sudah menyala?
Berhenti tepat di atas rel karena macet?
Menganggap palang pintu hanya formalitas?
Inilah bom waktu yang sesungguhnya.
Kereta seperti KA Argo Bromo Anggrek melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak bisa berhenti dalam hitungan detik. Ketika kendaraan terjebak di rel, jenis mesin tidak lagi relevan. Yang tersisa hanyalah hitungan detik antara hidup dan maut.
Berhenti Menyalahkan Teknologi
Menyalahkan mobil listrik adalah cara paling mudah untuk menghindari kenyataan pahit: bahwa kita masih lemah dalam budaya disiplin.
Teknologi tidak pernah salah. Yang salah adalah cara manusia menggunakannya.
Jika hari ini mobil listrik disalahkan, besok bisa saja teknologi lain menjadi korban berikutnya. Polanya sama: minim literasi, tinggi emosi, nol verifikasi.
Penutup: Kebenaran Harus Tegak
Opini ini bukan untuk membela teknologi, tetapi untuk membela akal sehat.
Jika kita terus membiarkan hoaks membentuk opini publik, maka yang kita bangun bukan masyarakat cerdas, melainkan masyarakat yang mudah digiring.
Dan di jalan raya, kesalahan berpikir seperti ini bisa berujung kematian.