Padang, Sinyalgonews.com — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, muncul satu fenomena sosial yang kian sering terjadi namun kerap dianggap sepele, yakni phubbing. Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang lebih fokus pada telepon genggamnya dibandingkan orang yang sedang berada di hadapannya.
Phubbing merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu phone (telepon) dan snubbing (mengabaikan). Secara sederhana, phubbing berarti tindakan mengabaikan lawan bicara karena sibuk dengan gadget.
Fenomena ini pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 2012 di Australia melalui sebuah kampanye sosial. Nama Alex Haigh kerap disebut sebagai sosok di balik popularisasi istilah tersebut. Seiring waktu, kata phubbing semakin dikenal luas dan bahkan telah digunakan dalam berbagai kamus serta kajian ilmiah.
Dalam kehidupan sehari-hari, praktik phubbing kian sulit dihindari. Misalnya, saat berbicara dengan petugas layanan di bank, seseorang tetap memainkan ponselnya. Atau ketika mendampingi anak belajar, perhatian terpecah oleh notifikasi yang terus muncul. Bahkan dalam momen kebersamaan, seperti makan bersama pasangan di restoran, ponsel sering kali menjadi “pihak ketiga” yang mengganggu komunikasi.
Perilaku ini tidak hanya mencerminkan kurangnya etika, tetapi juga berpotensi merusak kualitas hubungan sosial. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa phubbing dapat menurunkan tingkat kepercayaan, mengurangi kedekatan emosional, hingga memicu konflik dalam hubungan keluarga maupun pertemanan.
Ironisnya, banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi “phubber”—sebutan bagi pelaku phubbing. Kebiasaan ini terbentuk secara perlahan, dipicu oleh ketergantungan terhadap teknologi, dorongan untuk selalu terhubung, serta rasa takut ketinggalan informasi.
Di Indonesia sendiri, istilah phubbing memang belum memiliki padanan resmi dalam Bahasa Indonesia. Namun, praktiknya sudah sangat umum terjadi di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga hingga forum resmi seperti rapat dan pertemuan.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mulai mengendalikan penggunaan gadget dalam situasi sosial. Menghormati lawan bicara dengan memberikan perhatian penuh merupakan bentuk sederhana dari etika dan sopan santun yang tidak boleh luntur oleh kemajuan teknologi.
Mengurangi phubbing tidak berarti harus meninggalkan ponsel sepenuhnya. Langkah sederhana seperti menonaktifkan notifikasi saat rapat, menjauhkan ponsel saat berbicara, serta menjaga kontak mata saat berkomunikasi dapat menjadi awal perubahan.
Jangan sampai perangkat yang kita miliki dengan hasil kerja keras justru menjadi penyebab renggangnya hubungan dengan orang-orang terdekat. Pada akhirnya, kualitas interaksi manusia tetap menjadi hal yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar layar digital.
Semoga menjadi pengingat bagi kita semua.
Editor: TEUKU HUSAINI