Karya Tulis: TEUKU HUSAINI
Malam itu hujan turun tanpa suara gemuruh. Hanya rintik halus yang jatuh perlahan, seperti air mata yang enggan terlihat. Di sebuah rumah kecil di ujung kota, Arka duduk sendiri di beranda, menatap kosong ke arah jalan yang basah.
Tangannya menggenggam sebuah surat yang telah kusam di ujung-ujungnya. Surat itu sudah ia baca berkali-kali, namun setiap hurufnya masih terasa seperti luka baru.
“Maafkan aku, Arka…”
Hanya kalimat itu yang terus terngiang di kepalanya.
Dulu, hidup Arka terasa begitu sempurna. Ia memiliki Lira, perempuan sederhana yang selalu tersenyum meski hidup tak pernah benar-benar mudah bagi mereka. Lira bukan hanya kekasih, tapi juga rumah bagi Arka—tempat ia pulang dari segala lelah dan luka.
Namun semua berubah dalam satu malam yang tak pernah ia sangka.
Malam itu, Lira datang dengan wajah pucat dan mata yang sembab. Ia tidak banyak bicara. Hanya duduk di hadapan Arka, menggenggam tangannya erat seolah takut kehilangan sesuatu yang tak bisa ia pertahankan.
“Aku harus pergi, Ka…”
Arka tertawa kecil, mengira itu hanya candaan. Tapi ketika ia melihat air mata jatuh di pipi Lira, hatinya seketika runtuh.
“Pergi ke mana? Kita kan sudah punya rencana… rumah kecil, hidup sederhana… kamu bilang kita akan bahagia…”
Lira hanya menggeleng pelan. “Tidak semua yang kita rencanakan bisa kita miliki…”
Malam itu, tanpa banyak penjelasan, Lira pergi. Meninggalkan Arka dengan ribuan pertanyaan yang tak pernah terjawab.
Hari-hari setelahnya menjadi gelap bagi Arka. Ia mencoba mencari, bertanya pada siapa saja yang mengenal Lira. Namun semua seperti menemui jalan buntu. Lira hilang begitu saja, seakan tak pernah ada.
Hingga suatu hari, sebuah surat datang.
Surat itu sederhana, tanpa alamat pengirim. Namun Arka tahu, itu dari Lira. Tulisan tangan itu tak mungkin salah.
Dengan tangan gemetar, ia membukanya.
“Maafkan aku, Arka… Aku tidak pernah ingin meninggalkanmu. Tapi ada hal yang tak bisa aku lawan. Aku ingin kamu tetap hidup, tetap tersenyum, meski tanpa aku…”
Air mata Arka jatuh tanpa bisa ia tahan. Kata-kata itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hatinya.
“Jika suatu hari kita dipertemukan lagi, aku harap kamu masih mengingatku… bukan sebagai luka, tapi sebagai seseorang yang pernah sangat mencintaimu…”
Sejak hari itu, Arka hidup dalam bayang-bayang kenangan. Ia tetap menjalani hari, bekerja, tersenyum di depan orang lain. Namun di dalam hatinya, ada ruang kosong yang tak pernah terisi.
Malam ini, di bawah hujan yang sama seperti malam Lira pergi, Arka kembali membaca surat itu.
Ia menatap jalan, berharap entah kenapa, mungkin keajaiban akan terjadi. Mungkin Lira akan muncul dari ujung sana, berjalan pelan dengan senyum yang ia rindukan.
Namun yang datang hanyalah angin dingin.
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar di kejauhan.
Arka mengangkat kepala.
Seseorang berdiri di bawah cahaya lampu jalan. Siluetnya samar, namun entah mengapa, jantung Arka berdegup lebih cepat.
“Lira…?” bisiknya lirih.
Sosok itu mulai melangkah mendekat.
Hujan semakin deras.
Arka berdiri, langkahnya goyah. Air mata dan hujan bercampur di wajahnya.
Sosok itu berhenti beberapa langkah di depannya.
Namun sebelum wajahnya terlihat jelas, lampu jalan tiba-tiba padam.
Gelap.
Sunyi.
Dan hanya suara hujan yang tersisa.
“Siapa… kamu?” suara Arka bergetar.
Tak ada jawaban.
Hanya satu langkah pelan yang terdengar… mendekat.
Dan tepat saat Arka mencoba meraih tangan sosok itu—
…segalanya terasa menghilang.