Karya: TEUKU HUSAINI
Langit sore di Kota Padang tampak muram. Awan hitam menggantung di atas laut, seolah ikut menyimpan kesedihan yang tidak pernah selesai. Di sebuah warung kopi kecil dekat Pantai Padang, Roma duduk sendiri sambil memandangi ombak yang berdebur pelan. Secangkir kopi hitam di depannya sudah dingin sejak tadi.
Sudah tiga tahun Roma menunggu seseorang yang tak pernah kembali.
Namanya Noni.
Perempuan sederhana dengan mata bening dan senyum yang selalu membuat hati Roma tenang. Mereka pernah saling mencintai begitu dalam. Bahkan warga kampung sudah menganggap mereka pasangan yang akan menikah.
Namun hidup tak pernah benar-benar berpihak pada cinta.
Roma hanyalah pemuda miskin yang bekerja sebagai buruh angkut di pelabuhan Teluk Bayur. Penghasilannya tidak menentu. Kadang cukup makan, kadang harus berutang di warung Mak Ita demi membeli beras.
Sedangkan Noni adalah anak seorang pedagang kaya di Pasar Raya Padang. Ayahnya terkenal keras dan sangat menjaga martabat keluarga. Baginya, Roma bukan lelaki yang pantas mendampingi anaknya.
“Lupakan Roma, Non,” kata ayahnya suatu malam. “Ayah tidak mau kau hidup susah.”
Noni hanya diam sambil menahan air mata.
“Tapi Ayah… aku mencintainya.”
“Cinta tidak bisa beli beras!” bentak ayahnya.
Kalimat itu menghantam hati Noni seperti petir di malam gelap.
Sejak saat itu, hubungan mereka mulai dibatasi. Noni tak lagi bebas keluar rumah. Telepon genggamnya sering diperiksa. Bahkan Roma beberapa kali diusir saat datang ke rumah.
Namun cinta membuat mereka tetap bertahan.
Mereka sering bertemu diam-diam di tepi pantai menjelang magrib. Duduk di atas batu pemecah ombak sambil mendengar suara laut.
“Aku takut kehilanganmu, Rom,” bisik Noni suatu sore.
Roma menggenggam tangan gadis itu erat.
“Aku akan kerja lebih keras. Aku janji akan bahagiakan kau.”
Noni tersenyum tipis, walau matanya terlihat basah.
“Terkadang janji kalah oleh keadaan,” ucapnya lirih.
Roma tidak mengerti maksud kata-kata itu saat itu.
Hingga akhirnya kabar buruk datang seperti badai.
Ayah Noni menjodohkannya dengan seorang pengusaha muda dari Jakarta. Lelaki kaya yang memiliki banyak toko dan mobil mewah. Pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi.
Dunia Roma runtuh seketika.
Malam itu hujan turun deras ketika Noni menemui Roma untuk terakhir kali di Pantai Padang.
Angin laut terasa dingin menusuk tulang.
“Aku tidak bisa melawan Ayah…” tangis Noni pecah.
Roma mematung. Dadanya sesak seperti dihimpit batu besar.
“Kau mau tinggalkan aku demi lelaki itu?”
Noni menggeleng cepat sambil menangis.
“Aku tidak pernah ingin pergi…”
“Lalu kenapa kau menyerah?”
Suara Roma meninggi. Untuk pertama kalinya lelaki itu menangis di depan perempuan yang dicintainya.
Noni memeluk Roma erat.
“Maafkan aku… dalam hidup ini tidak semua cinta bisa memiliki.”
Hujan semakin deras. Lampu-lampu kota terlihat kabur oleh air mata dan rinai malam.
Roma memegang wajah Noni yang dingin.
“Kalau suatu hari kau bahagia… jangan ingat aku lagi.”
Noni menangis makin keras.
“Bagaimana mungkin aku melupakan separuh hatiku sendiri?”
Namun malam itu tetap menjadi akhir dari segalanya.
Dua minggu kemudian Noni dibawa keluarganya ke Jakarta. Tanpa pesta perpisahan. Tanpa kesempatan bertemu lagi.
Roma kehilangan arah hidupnya.
Ia tetap bekerja di pelabuhan, tetapi wajahnya berubah murung. Ia jarang bicara. Setiap malam Roma datang ke pantai yang dulu menjadi tempat mereka bertemu.
Menunggu sesuatu yang tak pasti.
Sampai suatu hari Mak Ita menyerahkan sebuah surat lusuh kepadanya.
“Ini ada orang titip sebelum berangkat ke Jakarta dulu,” katanya pelan.
Tangan Roma gemetar membuka surat itu.
Tulisan tangan Noni masih sama seperti dulu.
“Roma…
Jika suatu hari surat ini sampai ke tanganmu, mungkin aku sudah sangat jauh. Aku ingin kau tahu, aku tidak pernah berhenti mencintaimu.
Aku pergi bukan karena ingin meninggalkanmu, tapi karena aku terlalu lemah melawan keadaan.
Kadang cinta tidak kalah oleh kebencian, tetapi kalah oleh restu dan kemiskinan.
Aku hanya ingin satu hal… jangan benci aku.
Di setiap doaku, namamu selalu ada.
Noni.”
Air mata Roma jatuh membasahi surat itu.
Untuk pertama kali setelah sekian lama, lelaki itu menangis tersedu-sedu di tengah suara ombak malam.
Langit Pantai Padang kembali gerimis.
Roma menatap laut yang gelap sambil menggenggam surat di dadanya.
Rindu itu masih ada.
Masih hidup.
Namun tak akan pernah sampai kepada pemiliknya lagi.
Media Sinyalgonews.com