Padang, Sinyalgonews.com,—
Di bawah langit Ranah Minang yang kian muram,
Suara adzan berkumandang, namun hati terasa lebam.
Kami bersujud di atas tanah yang katanya beradab,
Namun di meja-meja kekuasaan, janji hanyalah dusta kebiasaan.
Tuan…
Ingatkah saat telapak tanganmu menengadah ke langit?
Meminta do’a kami agar kursimu tak lagi sulit.
Kau bawa nama Tuhan, kau kutip ayat-ayat suci Al-Qur’an,
Hingga kami percaya, kau adalah imam Pemerintah yang berbakti.
Namun kini, di sela-sela nasi padang yang mulai hambar,
Janji-janjimu terbang tertiup angin di tepian Ngarai Sianar.
Anak-anak kami masih berteman debu jalanan yang berlubang,
Sementara mobil dinasmu mengkilap, melaju tanpa rasa bimbang.
”Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,”
Begitu katamu, setiap kali ingin meraih berkah.
Tapi di manakah keadilan yang diperintahkan Al-Qur’an?
Jika perut rakyatmu melilit, sementara kau sibuk dengan pencitraan.
Wahai Pemimpin di singgasana Rumah Gadang,
Apakah kau tak takut pada maut yang datang menghadang?
Sajadahmu dan mobilmu mungkin mahal, tapi tangis korban bencana di pelosok desa,
tiada lagi tempat bernaung yang layak,
Adalah do’a yang langsung menembus arasy tanpa jeda.
Engkau berjanji membangun jembatan, membangun harapan,
Tapi yang kokoh hanyalah dinding keangkuhan, pencitraan diri lewat media, dan kemapanan.
Engkau bicara kesejahteraan di mimbar-mimbar megah,
Tapi di pasar-pasar, emak-emak menangis karena harga sembako membuncah.
Ingatlah…
Kelak di padang mahsyar, tak ada ajudan yang membela,
Tak ada partai yang pasang badan saat lisanmu terbata-bata.
Tuhan akan bertanya tentang setiap tetes keringat kami,
Yang kau tukar dengan janji palsu demi ambisi pribadi.
Sumatera Barat ini bukan sekadar peta kekuasaan,
Ini adalah amanah, ini adalah ladang pertanggungjawaban.
Jangan biarkan rakyatmu menangis di hadapan Ka’bah,
Mengadukan namamu sebagai penguasa yang khianati amanah dan lemah iman.
Kembalilah pada janji yang dulu kau bisikkan pada malam,
Sebelum liang lahat menutup segalanya menjadi kelam.
Sebab pedihnya dikhianati manusia bisa kami maafkan,
Tapi murka Allah atas janji palsu… ke mana kau hendak dilarikan?