Laporan : Tb Mhd Arief Hendrawan | Jurnalis dan Tim Analisis Kemanusiaan dan Mitigasi Bencana Sumatera
Aceh Tamiang, Sinyalgonews.com, – Jalanan di Aceh Tamiang kini menjadi kolam lapisan lumpur tebal. Beberapa hari, (27/11~14/12) pasca-badai yang membawa tragedi banjir bandang nasional, pemandangan yang tersisa adalah kehancuran total. Ratusan rumah yang dulunya berdiri tegak kini rata dengan tanah, hanya menyisakan puing-puing memilukan yang berserakan. Namun, di antara sisa-sisa material dan puluhan mayat manusia dan hewan yang berserakan tertimbun lumpur, muncul krisis baru yang tak kalah genting dan jauh lebih menjijikkan: bau kematian.
Udara di Aceh Tamiang, yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kini telah berubah menjadi bau busuk yang tajam dan mematikan—bau bangkai.
Banjir bandang bukan hanya merenggut harta benda, tetapi juga martabat. Di bawah timbunan lumpur yang lengket dan basah, tersembunyi puluhan bangkai manusia dan hewan ternak yang tidak sempat dievakuasi. Upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan oleh tim gabungan, namun jumlah korban jiwa—baik manusia maupun ternak—yang terperangkap dan membusuk di bawah reruntuhan dan lumpur telah mencapai skala yang mengkhawatirkan.
Fakta bahwa puluhan bangkai manusia dan hewan berserakan atau terkubur dangkal di tengah permukiman adalah bom waktu kesehatan masyarakat.
Krisis Kesehatan di Atas Bencana Kemanusiaan
Bau bangkai ini adalah indikator langsung dari risiko penularan penyakit yang sangat tinggi. Setiap jam berlalu, proses dekomposisi mengeluarkan gas berbahaya dan menyebarkan bakteri patogen ke udara dan sumber air yang tersisa. Warga yang selamat, yang kini terpaksa hidup di pengungsian atau di sekitar lokasi bencana, berhadapan langsung dengan ancaman serius kolera, tifus, leptospirosis, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Ini bukan lagi hanya soal bencana alam, ini adalah krisis sanitasi darurat yang memerlukan intervensi militeristik. Langkah-langkah penanganan yang ada saat ini terasa lambat dan tidak terkoordinasi menghadapi volume lumpur, sampah, dan jenazah yang begitu besar.
Kami menuntut agar Pemerintah Pusat dan Daerah segera menetapkan langkah-langkah darurat:
1.Prioritas Utama Evakuasi Bangkai: Dibentuknya tim khusus, yang dilengkapi dengan perlengkapan pelindung diri (APD) dan disinfektan, dengan mandat tunggal untuk mencari, mengidentifikasi, dan mengevakuasi semua jenazah manusia dan bangkai hewan ternak yang tersisa. Proses ini harus dipercepat untuk meminimalkan kontaminasi lebih lanjut.
2.Sanitasi dan Disinfeksi Massal: Segera lakukan penyemprotan disinfektan secara besar-besaran di area yang terendam lumpur dan terdampak parah. Perbaikan sistem sanitasi dan penyediaan air bersih harus menjadi fokus utama, bahkan jika harus dilakukan dengan mobilisasi tangki air dan toilet darurat.
3.Posko Kesehatan Terintegrasi: Memperkuat posko kesehatan dengan obat-obatan, vaksinasi darurat (terutama tetanus dan tifus), dan personel medis yang memadai untuk mengatasi lonjakan kasus penyakit pasca-bencana.
4.Dukungan Mental dan Sosial: Tidak hanya fisik, trauma mental akibat kehilangan rumah dan menyaksikan kematian di sekitar mereka juga perlu ditangani segera.
Bau bangkai yang menusuk hidung warga Aceh Tamiang adalah simbol kegagalan kita dalam merespons bencana secara komprehensif. Ini adalah panggilan darurat yang tidak bisa diabaikan. Kita harus bergerak cepat untuk membersihkan lumpur, mengembalikan martabat korban, dan mengusir aroma kematian, sebelum Aceh Tamiang benar-benar terkubur dalam tragedi ganda: bencana alam dan wabah penyakit.