Editor: TEUKU HUSAINI
JAKARTA Sinyalgonews.com— Semangat toleransi dan inklusivitas kembali terlihat di lingkungan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Seorang wisudawan nonmuslim asal Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku merasakan kenyamanan dan penerimaan selama menempuh pendidikan di kampus berbasis Islam tersebut.
Kisah inspiratif itu datang dari Wilfridus Kado, mahasiswa Program Magister Teknologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana UMJ yang beragama Kristen. Dalam keterangannya, Wilfridus menyampaikan bahwa dirinya memilih UMJ karena reputasi akademik yang baik serta kurikulum yang dinilai relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia pendidikan modern.
Menurut Wilfridus, sejak pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan kampus, dirinya tidak pernah merasakan perlakuan berbeda meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Ia justru menemukan suasana penuh penghormatan, persaudaraan, dan sikap saling menghargai antar mahasiswa maupun dosen.
Ia mengatakan bahwa pengalaman kuliah di kampus Muhammadiyah telah membuka pandangannya tentang pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman. Baginya, dunia pendidikan harus menjadi ruang yang aman bagi semua kalangan tanpa memandang suku, agama, maupun budaya.
Wilfridus menilai nilai-nilai toleransi yang diterapkan di UMJ bukan sekadar slogan, melainkan benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan akademik. Mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia dapat belajar bersama dalam suasana harmonis dan saling mendukung.
Tidak hanya fokus pada akademik, UMJ juga disebut memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter mahasiswa. Sikap menghormati perbedaan menjadi salah satu nilai utama yang terus dibangun dalam kehidupan kampus.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi berbasis keagamaan juga mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh anak bangsa. Dalam suasana keberagaman Indonesia yang sangat kompleks, pendekatan inklusif di dunia pendidikan dinilai penting untuk memperkuat persatuan nasional.
Sebelumnya, sejumlah mahasiswa nonmuslim lain juga pernah menyampaikan pengalaman serupa selama kuliah di UMJ. Mereka mengaku diterima dengan baik dan tidak pernah mendapatkan diskriminasi dalam proses pembelajaran maupun aktivitas sosial di kampus.
Bahkan, beberapa mahasiswa nonmuslim berhasil meraih prestasi akademik membanggakan dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik di lingkungan UMJ. Hal itu menjadi bukti bahwa kesempatan berprestasi terbuka luas bagi seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakang agama.
Dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa saling membantu dan menghormati waktu ibadah masing-masing. Suasana tersebut menciptakan hubungan yang harmonis antar mahasiswa dari berbagai keyakinan.
Rektor UMJ, Ma’mun Murod, sebelumnya juga menegaskan komitmen kampus dalam membangun pendidikan berdampak dan berkelanjutan. Salah satu fokus utama kampus adalah menciptakan lingkungan pendidikan yang terbuka dan inklusif bagi semua pihak.
Nilai toleransi yang berkembang di lingkungan kampus Muhammadiyah dinilai menjadi contoh positif bagi masyarakat luas. Di tengah berbagai tantangan sosial dan isu intoleransi yang masih muncul di sejumlah tempat, dunia pendidikan diharapkan mampu menjadi pelopor persatuan dan keharmonisan.
Kisah Wilfridus juga menjadi pesan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk belajar, berprestasi, dan menjalin persaudaraan. Pendidikan sejatinya menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antarmanusia serta membangun rasa saling memahami.
Dengan semangat inklusivitas tersebut, UMJ terus berupaya memperkuat perannya sebagai kampus modern yang terbuka terhadap keberagaman. Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah dan agama menjadi bagian penting dalam memperkaya pengalaman belajar di lingkungan akademik.
Pengalaman para wisudawan nonmuslim di UMJ sekaligus membuktikan bahwa toleransi dapat tumbuh kuat ketika dibangun melalui pendidikan, dialog, dan rasa saling menghargai. Di tengah keberagaman Indonesia, nilai-nilai seperti itulah yang menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan bangsa.