Padang, 27 Oktober 2025 — Sinyalgonews.com
Forum Komunikasi Masyarakat Pencinta Lingkungan Hidup (FKMPLH) Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, kembali menunjukkan keseriusannya dalam menanggulangi persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan. Forum tersebut melakukan penimbunan area insinerator (INJ) seluas 5.000 meter persegi dengan ketinggian timbunan mencapai 2 meter, sebagai langkah awal dalam pengolahan sampah berkelanjutan di wilayah Bungus Timur.

Langkah ini menjadi bukti bahwa masyarakat tidak hanya mengeluh, tetapi bergerak dan berbuat nyata untuk mencari solusi terhadap persoalan sampah yang selama ini menjadi masalah klasik di Kota Padang.
“Kami sudah lakukan penimbunan area untuk lokasi insinerator dan bak-bak sampah. Biayanya kami kumpulkan dari iuran masyarakat dan simpatisan yang peduli lingkungan,” ujar Santi Hosnifa, Bendahara FKMPLH, kepada tim investigasi Sinyalnews di lokasi kegiatan.
Namun, Santi menegaskan bahwa upaya swadaya masyarakat ini sudah sampai pada batas kemampuan. Ia berharap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang dan instansi terkait dapat memberikan perhatian lebih serius agar pengelolaan sampah tidak berhenti hanya pada tahap penimbunan.
“Kalau kami punya anggaran lebih, kami ingin kembangkan juga pembuatan pakan ternak mandiri di Bungus Timur. Tapi saat ini anggaran kami minus. Karena itu kami berharap kerja sama dengan DLH dan Pemko Padang,” tambahnya.
FKMPLH melihat teknologi insinerator sebagai solusi potensial untuk mengurangi volume sampah hingga 90 persenserta menghasilkan energi listrik dari panas pembakaran. Meski demikian, mereka menyadari bahwa pengelolaan abu sisa pembakaran juga harus dilakukan dengan benar agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan baru.
Selain itu, forum ini juga tengah mengembangkan pengolahan sampah organik menggunakan metode budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Metode ini bukan hanya ramah lingkungan, tapi juga bernilai ekonomi. Sisa pakan maggot dapat dijadikan pupuk kompos berkualitas, sementara maggotnya sendiri bisa digunakan sebagai pakan ternak dan ikan.
Langkah inovatif ini menjadi bukti bahwa masyarakat Bungus memiliki kesadaran ekologis tinggi dan siap menjadi pelopor pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di tingkat lokal.
Sayangnya, di tengah semangat dan kerja keras warga, dukungan nyata dari pemerintah dinilai masih minim. Warga menilai Pemko Padang dan DLH belum menunjukkan kepedulian yang sepadan terhadap inisiatif masyarakat yang sudah bergerak lebih dulu.
“Masalah sampah adalah masalah kita semua. Tapi kalau masyarakat serius dan pemerintah tutup mata, maka hasilnya tidak akan efisien. Kami butuh pendampingan dan dukungan agar pengelolaan ini benar-benar bisa berkelanjutan,” tegas Santi.
Warga berharap pemerintah tidak hanya datang ketika masalah sudah parah, tetapi mulai turun langsung mendampingi masyarakat sejak awal, terutama dalam menyediakan fasilitas, pembinaan teknis, dan bantuan anggaran.
Harapan ke Depan
Dengan dimulainya penimbunan area insinerator ini, FKMPLH berharap wilayah Bungus Timur bisa menjadi contoh daerah pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat di Sumatera Barat.
Kerja sama yang sinergis antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha diyakini akan menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan.
“Kami sudah berbuat, tinggal pemerintah mau tidak melihat dan mendukung gerakan ini. Jangan sampai semangat masyarakat padam hanya karena kurangnya perhatian,” tutup Santi penuh harap.
Penulis: FR / TM / BM
Editor: Redaksi Sinyalnews.com
