Aceh, Sinyalgonews.com,—Bupati Aceh Selatan akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat setelah menuai kritik tajam akibat keberangkatannya ke Tanah Suci untuk melaksanakan umrah tanpa izin resmi dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi, di saat wilayahnya tengah dilanda bencana banjir dan longsor.
Permintaan maaf itu disampaikan dalam konferensi pers di Pendopo Bupati pada Senin pagi, di hadapan unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, serta perwakilan relawan yang sejak awal mempertanyakan tanggung jawab pemerintah daerah dalam menangani bencana. Banjir yang melanda Aceh Selatan dalam sepekan terakhir mengakibatkan ribuan warga mengungsi, sejumlah infrastruktur rusak, dan aktivitas pemerintahan terhambat.
Dalam keterangannya, Bupati mengakui bahwa keberangkatan tersebut merupakan keputusan pribadi yang keliru, terutama dilakukan di saat masyarakat sangat membutuhkan kehadiran dan kepemimpinannya. Ia menegaskan bahwa tidak ada niat untuk mengabaikan tugas, namun tetap menerima bahwa tindakannya tidak patut dilakukan dalam kondisi darurat daerah.
“Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Aceh Selatan. Saya memahami kekecewaan warga. Saya seharusnya berada di tengah-tengah masyarakat, memimpin langsung penanganan bencana. Ini menjadi pelajaran berharga bagi saya ke depan,” ujar Bupati.
Kritik terhadap dirinya mencuat setelah foto dan video keberadaannya di Arab Saudi tersebar luas di media sosial. Banyak pihak menilai tindakan tersebut sebagai bentuk kelalaian seorang pemimpin yang seharusnya mengutamakan keselamatan dan kebutuhan warga. Bahkan beberapa anggota DPRK secara terbuka meminta klarifikasi terkait izin perjalanan dinas yang ternyata tidak pernah diajukan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Aceh Selatan menyampaikan bahwa penanganan bencana tetap berjalan menggunakan mekanisme tanggap darurat yang sudah ditetapkan. Namun ia mengakui bahwa kehadiran kepala daerah di lapangan sangat penting untuk memimpin koordinasi, terutama pada saat proses evakuasi dan pendistribusian bantuan.
Setelah kembali ke tanah air, Bupati langsung meninjau beberapa titik pengungsian, termasuk wilayah yang terdampak paling parah. Ia berjanji akan memperkuat sistem mitigasi, mempercepat perbaikan infrastruktur rusak, serta membuka ruang dialog dengan masyarakat yang terdampak.
Berbagai elemen masyarakat berharap permintaan maaf itu bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi momentum evaluasi kepemimpinan agar kejadian serupa tidak terulang. Bagi warga Aceh Selatan, bencana adalah ujian berat, namun kehadiran pemimpin yang bertanggung jawab merupakan bagian penting dari harapan mereka untuk bangkit kembali.
Editor: Teuku Husaini