Editor: Teuku Husaini – Sinyalgonews.com
Lokasi bencana kembali disorot setelah banyak warga korban musibah mengeluhkan tindakan sejumlah pengunjung yang datang bukan untuk membantu, melainkan sekadar berswafoto atau membuat konten. Fenomena ini semakin sering terlihat dalam beberapa hari terakhir di berbagai titik terdampak banjir dan longsor.
Para penyintas yang tengah berjuang memulihkan kehidupan mereka merasa kehadiran para pengambil swafoto itu justru mengganggu. Mereka menilai tindakan tersebut tidak menghargai penderitaan yang sedang mereka alami. “Kami masih syok, masih kehilangan barang, rumah hancur. Tapi orang datang-datang cuma mau foto-foto. Itu menyakitkan,” ujar salah seorang warga.
Relawan di lapangan juga menyampaikan hal serupa. Banyak dari mereka menegaskan bahwa area bencana merupakan zona darurat yang memerlukan keseriusan, koordinasi, dan fokus penuh pada evakuasi, bukan tempat wisata dadakan.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat agar menghormati ruang dan perasaan para korban. Mereka menegaskan bahwa siapa pun yang datang harus mengutamakan bantuan nyata, bukan mengejar konten untuk media sosial. Pemerintah daerah juga mempertimbangkan untuk membatasi akses publik ke beberapa titik agar proses pemulihan tetap berjalan tanpa gangguan.
Warga berharap kesadaran sosial semakin tumbuh, sehingga lokasi bencana benar-benar menjadi tempat penanganan dan pemulihan, bukan arena swafoto yang memperdalam luka mereka.