Padang, Sinyalgonews.com – Luka akibat banjir bandang akhir tahun lalu masih membekas di kawasan Sawah Liat, Kelurahan Kampung Olo, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang. Namun di balik kekhawatiran akan ancaman banjir susulan, tumbuh tekad kuat dari warga untuk bangkit dan melindungi kampung mereka. Tak menunggu bantuan datang, warga bersama pemuda setempat bergerak melakukan gotong royong membangun tanggul sungai yang jebol, Minggu (11/1/2026).

Sejak pagi hari, ratusan karung pasir mulai disusun di sepanjang tepi sungai yang terkikis arus deras banjir bandang. Sekitar 150 meter tanggul dilaporkan rusak parah, bahkan sebagian badan jalan di pinggir sungai ikut tergerus. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, sebab jika tanggul kembali jebol saat debit air sungai meningkat, banjir dikhawatirkan akan meluas hingga Jalan Joni Anwar Lapai, mengancam rumah warga dan fasilitas umum.

Ketua RW 03 Kelurahan Kampung Olo, Efrimal, menyampaikan bahwa inisiatif gotong royong ini lahir dari kegelisahan bersama warga akan keselamatan lingkungan mereka.
“Kerusakan tanggul ini sangat mengkhawatirkan. Kalau dibiarkan, bukan hanya Sawah Liat yang terdampak, tapi bisa menjalar ke wilayah lain. Karena itu, meski anggaran pemerintah belum turun, kami sepakat untuk bergerak dulu secara swadaya,” ujar Efrimal.
Melalui musyawarah warga, disepakati pengumpulan iuran untuk mendukung penyewaan alat berat. Upaya tersebut dipermudah dengan adanya bantuan alat berat, sehingga warga hanya menanggung biaya bahan bakar solar. Dengan modal kebersamaan, pekerjaan pembuatan tanggul pun dimulai.
Pada hari pertama gotong royong, bantuan minyak solar dan karung mengalir dari Dareliman Peduli bersama para donatur pemirsa Surau TV, yang menjadi suntikan semangat bagi warga. Pekerjaan kemudian berlanjut hingga hari kedua.
Dukungan juga datang dari dunia akademik. ITP Peduli mengerahkan satu unit ekskavator, lengkap dengan relawan mahasiswa Institut Teknologi Padang (ITP) yang turun langsung membantu warga di lapangan. Kolaborasi antara masyarakat dan mahasiswa ini mempercepat proses pembangunan tanggul.

Tak hanya itu, tambahan bantuan alat berat kembali hadir dari PT Nindya Karya dan Danantara, yang mengerahkan unit beserta operatornya untuk membantu pekerjaan. Sinergi lintas pihak ini membuat warga semakin optimistis tanggul darurat tersebut dapat segera diselesaikan.
Pada hari Minggu, saat relawan mahasiswa ITP libur, semangat warga justru tak surut. Dengan tenaga sendiri, mereka kembali mengisi karung-karung pasir, mengatur susunan tanggul, dan memastikan aliran sungai tetap terkendali.
“Hari ini kami kembali bergotong royong bersama warga untuk mengisi kekosongan. Insyaallah, kalau cuaca mendukung, beberapa hari ke depan pekerjaan ini bisa selesai,” kata Efrimal penuh harap.
Gotong royong ini juga mendapat perhatian dari pemerintah kelurahan. Sekretaris Lurah Kampung Olo, Editiawarman, S.A.P., turut hadir langsung di lokasi bersama sejumlah perangkat kelurahan lainnya. Kehadiran mereka menjadi penyemangat tersendiri bagi warga yang tengah berjibaku dengan lumpur dan karung pasir.
Selain itu, para tokoh lingkungan juga terlibat aktif. Ketua RT 02 RW 03 Sawah Liat, Dr. Novri Hardian, MA, terlihat turun langsung membantu warga, didampingi Ketua RT 01, Roni, yang tak henti memotivasi masyarakat agar tetap solid.
Tak kalah mengharukan, peran ibu-ibu warga Sawah Liat menjadi energi tersendiri. Dengan penuh kepedulian, mereka menyiapkan snack, kopi, dan air minum, lalu mengantarkannya ke lokasi gotong royong, memastikan para pekerja tetap bersemangat meski lelah.
Hingga berita ini diturunkan, suara alat berat dan aktivitas warga masih terdengar di sepanjang sungai Sawah Liat. Di tengah ancaman bencana dan keterbatasan anggaran, warga membuktikan bahwa gotong royong, kepedulian, dan solidaritas adalah benteng terkuat untuk melindungi kampung mereka.
Semangat Sawah Liat hari itu bukan sekadar tentang membangun tanggul, tetapi tentang menjaga harapan dan keselamatan bersama—bahwa kampung ini akan bangkit, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi masa depan.
( Mat )