Editor: TEUKU HUSAINI Sinyalgonews.com
Sosok Gusrizal Gazahar kembali menjadi perbincangan publik setelah kisah prinsip hidupnya yang tegas dalam menjaga nilai-nilai agama mencuat ke permukaan. Seorang dosen Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang telah mapan, ia memilih mengundurkan diri dari jabatannya bukan karena persoalan materi atau jabatan, melainkan karena mempertahankan prinsip keislaman yang diyakininya.
Buya Gusrizal lahir pada 13 Agustus 1973 di Panyakalan, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Ia tumbuh di lingkungan sederhana yang sarat dengan nilai-nilai religius. Meski bukan berasal dari keluarga ulama besar, sosok kakeknya yang merupakan guru mengaji di Masjid Jami’ Panyakalan menjadi inspirasi awal dalam perjalanan keilmuannya.
Pendidikan tinggi ia tempuh hingga ke Universitas Al-Azhar melalui beasiswa dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Setelah meraih gelar Sarjana Syariah, ia melanjutkan studi magister dan doktoral di UIN Imam Bonjol Padang dalam bidang Hukum Islam. Latar belakang pendidikan ini membentuk karakter pemikirannya yang kuat dan konsisten dalam prinsip.
Sekembalinya ke tanah air, Buya Gusrizal aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi, seperti STAIN Kerinci, IAIN Imam Bonjol, hingga IAIN Bukittinggi. Namun pada tahun 2018, ia mengambil langkah besar dengan mengundurkan diri sebagai dosen PNS. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk sikap terhadap kebijakan kampus yang melarang penggunaan cadar bagi dosen perempuan.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar aturan berpakaian, melainkan menyangkut kebebasan menjalankan syariat Islam dan menjaga kehormatan Muslimah. Sikap ini menegaskan bahwa prinsip berada di atas kepentingan jabatan.
Dalam perjalanan dakwahnya, Buya Gusrizal telah mendirikan Surau Buya Gusrizal di Bukittinggi sejak tahun 2003. Melalui kegiatan pengajian rutin bertajuk al-Nadwah li ‘Izzat al-Islam, ia membina masyarakat dengan pendekatan kebersamaan dan nilai gotong royong.
Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat selama dua periode (2015–2025). Di bawah kepemimpinannya, MUI Sumbar dikenal vokal dalam menyikapi berbagai isu keumatan.
Meski menghadapi berbagai tantangan, baik di tingkat lokal maupun nasional, Buya Gusrizal tetap konsisten dalam menyuarakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Ia terus aktif berdakwah, baik secara langsung di tengah masyarakat maupun melalui platform digital.
Di akhir masa jabatannya, ia menyampaikan pesan penting bahwa ulama harus hadir di tengah umat, bukan sekadar berada di balik kenyamanan, tetapi menjadi garda terdepan dalam membimbing masyarakat menuju kebaikan.
Kisah Buya Gusrizal Gazahar menjadi pengingat bahwa keberanian dalam berdakwah bukan terletak pada kerasnya suara, melainkan pada keteguhan dalam memegang prinsip di tengah berbagai tekanan zaman.