Editor: TEUKU HUSAINI
Padang, Sinyalgonews.com,–Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik akhirnya memasuki babak penting. Pemerintah bersama pihak pelaksana proyek memastikan bahwa seluruh lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan jalan layang tersebut telah diserahkan 100 persen kepada PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL) sebagai badan usaha pelaksana proyek.
Kabar ini menjadi angin segar bagi masyarakat Sumatera Barat, khususnya pengguna jalur Padang–Solok yang selama bertahun-tahun dihantui rasa takut saat melintasi tikungan ekstrem Sitinjau Lauik. Jalur tersebut dikenal sebagai salah satu ruas paling berbahaya di Pulau Sumatera karena memiliki tanjakan curam, tikungan tajam, serta sering terjadi kecelakaan kendaraan berat maupun kendaraan pribadi.
Sekretaris Perusahaan PT HPSL Lenardo Putra menjelaskan bahwa progres penyerahan lahan berlangsung bertahap. Pada pertengahan April 2026 lahan yang diserahkan baru mencapai 77 persen, kemudian meningkat menjadi 95 persen di akhir April, dan akhirnya pada 12 Mei 2026 seluruh lahan resmi diserahkan kepada pihak pelaksana proyek.
Dengan rampungnya pembebasan lahan, pengerjaan fisik proyek kini dapat dilakukan lebih maksimal. Saat ini progres pembangunan Flyover Sitinjau Lauik telah mencapai sekitar 18,5 persen. Beberapa pekerjaan konstruksi seperti penggalian titik jalan, pemasangan tiang pancang jembatan, dan pengerjaan struktur awal sudah mulai terlihat di kawasan tersebut.
Flyover Sitinjau Lauik sendiri merupakan proyek strategis nasional yang dibangun melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Nilai investasinya mencapai sekitar Rp2,7 triliun hingga Rp2,79 triliun. Proyek ini dirancang menjadi solusi permanen untuk mengurangi angka kecelakaan di kawasan Sitinjau Lauik yang selama ini sering memakan korban jiwa.
Dalam perencanaannya, proyek tersebut akan membangun empat unit jembatan dan lima ruas jalan penghubung yang membentang di kawasan perbukitan Kota Padang hingga menuju Kabupaten Solok. Jalan layang itu nantinya menjadi bagian penting jalur nasional lintas Sumatera yang menghubungkan berbagai wilayah strategis di Sumbar.
Selain faktor keselamatan, pembangunan flyover ini juga diharapkan mempercepat arus logistik dan distribusi hasil pertanian masyarakat dari daerah Solok dan sekitarnya menuju Kota Padang maupun provinsi tetangga. Selama ini jalur Sitinjau Lauik sering mengalami kemacetan panjang akibat kendaraan berat yang kesulitan melewati tanjakan ekstrem.
Pemerintah sebelumnya menargetkan proyek ini selesai pada Oktober 2027. Namun target tersebut kemungkinan mengalami penyesuaian karena proses pembebasan lahan yang sempat terlambat dari jadwal awal. Jika sebelumnya pembebasan lahan diperkirakan selesai Oktober 2025, kenyataannya baru tuntas pada Mei 2026.
Akibat keterlambatan itu, pihak HPSL bersama kontraktor kini tengah melakukan evaluasi dan penghitungan ulang terkait kebutuhan tambahan waktu pengerjaan proyek. Mereka juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk menentukan langkah lanjutan agar pembangunan tetap berjalan optimal.
Meski demikian, masyarakat Sumatera Barat tetap menyambut baik perkembangan ini. Banyak warga menilai flyover tersebut bukan lagi sekadar proyek pembangunan biasa, tetapi sudah menjadi kebutuhan mendesak demi keselamatan pengguna jalan.
Selama bertahun-tahun Sitinjau Lauik dikenal sebagai jalur penuh risiko. Kecelakaan truk rem blong, kendaraan terbalik, hingga tabrakan beruntun sering terjadi di kawasan itu. Bahkan sejumlah pihak pernah mendorong agar jalur lama ditutup total jika flyover sudah selesai dibangun.
Pembangunan jalan layang ini juga menjadi simbol keseriusan pemerintah pusat dan daerah dalam memperhatikan infrastruktur Sumatera Barat. Dengan kondisi geografis yang berbukit dan rawan longsor, pembangunan infrastruktur modern seperti Flyover Sitinjau Lauik menjadi kebutuhan penting untuk menunjang pertumbuhan ekonomi daerah.
Kini masyarakat berharap tidak ada lagi hambatan birokrasi maupun persoalan teknis yang memperlambat pembangunan proyek tersebut. Setelah lahan selesai dibebaskan sepenuhnya, publik tentu ingin melihat pengerjaan berjalan cepat dan tepat waktu.
Flyover Sitinjau Lauik bukan hanya tentang beton dan jembatan. Ia adalah harapan baru agar jalur ekstrem yang selama ini identik dengan maut dapat berubah menjadi jalur aman, modern, dan membanggakan bagi masyarakat Ranah Minang.