• Home
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • International
  • Peristiwa
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Pariwisata
  • Teknologi
  • Agama
  • Kesehatan
  • Infrastruktur
  • Loker

SinyalGoNews.com • News • *RINDU YANG TERTAHAN*

NewsSeni

*RINDU YANG TERTAHAN*

editor
Last updated: 17/04/2026 20:56
editor
Share
7 Min Read
SHARE

 

Karya tulis: TEUKU HUSAINI 

 

Di sebuah kampung sederhana di pinggiran kota, hiduplah seorang sopir truk bernama Rahman. Setiap hari ia menghabiskan waktu di jalanan panjang, mengantar muatan dari satu kota ke kota lain. Debu jalanan, dingin malam, dan lelah sudah menjadi teman setianya. Kadang ia tidur di dalam kabin truk, ditemani suara mesin dan sunyi yang panjang.

Namun di balik kerasnya kehidupan itu, Rahman selalu punya alasan untuk bertahan: keluarganya.

Di rumah kecil berdinding kayu, ada seorang istri yang setia bernama Sari. Ia tidak pernah mengeluh, meski sering menahan rindu yang panjang. Bersama dua anak mereka, Raka dan Lila, Sari menjaga rumah itu dengan penuh cinta dan kesabaran. Setiap malam ia menunggu kabar dari suaminya, walau hanya suara singkat lewat telepon.

“Bapak kapan pulang?” tanya Lila kecil setiap malam dengan suara polosnya.

Sari hanya tersenyum sambil mengusap kepala anaknya. “Bapak sedang bekerja jauh, supaya kamu bisa sekolah dan jadi orang hebat.”

Lila mengangguk kecil meski matanya menyimpan rindu yang belum ia pahami sepenuhnya.

Rahman sendiri sering menahan air mata saat menelpon dari pinggir jalan. Di antara suara klakson kendaraan besar dan angin malam yang dingin, ia mendengarkan suara anak-anaknya seperti obat paling ampuh dari lelah yang tak terlihat. Ia selalu berjanji dalam hati: aku harus bertahan demi mereka.

Tahun demi tahun berlalu seperti roda truk yang terus berputar. Raka tumbuh menjadi anak yang tekun, rajin belajar, dan tidak banyak bicara. Sementara Lila dikenal sebagai siswi yang cerdas dan ceria. Semua itu tidak lepas dari doa seorang ibu dan keringat seorang ayah yang tak pernah berhenti bekerja.

Namun kehidupan tidak selalu mudah. Kadang Rahman pulang dengan tubuh penuh lelah, dompet tipis, dan hati yang kosong. Ia pernah berpikir untuk berhenti menjadi sopir truk, tetapi setiap kali melihat wajah anak-anaknya, ia mengurungkan niat itu. Ia tahu, pendidikan mereka adalah jalan keluar dari kesulitan hidup.

Hingga suatu hari yang ditunggu tiba.

Di sebuah aula sederhana sekolah, Rahman duduk di barisan paling belakang. Ia sengaja datang diam-diam, setelah perjalanan panjang semalam suntuk mengantar barang. Pakaiannya masih berdebu, namun ia tidak peduli. Di panggung, Raka dipanggil sebagai lulusan terbaik sekolahnya.

“Terima kasih untuk ayah dan ibu saya… yang telah mengorbankan segalanya untuk kami,” suara Raka bergetar di mikrofon.

Rahman menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Sari yang duduk di sampingnya menggenggam tangannya erat-erat. Mereka saling menatap—mata yang lelah, tapi penuh kebahagiaan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Raka turun dari panggung, lalu berlari memeluk ayah dan ibunya. Tangisnya pecah di tengah aula itu.

“Pak… Bu… aku berhasil. Ini semua karena kalian.”

Rahman memeluk anaknya dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya lagi. “Tidak… kamu berhasil karena kerja kerasmu sendiri, Nak. Kami hanya mendoakan.”

Saat itu, semua rindu yang tertahan bertahun-tahun seolah luruh begitu saja. Tangis pecah di antara pelukan hangat itu—bukan tangis kesedihan, tetapi tangis perjuangan yang akhirnya terbayar.

Rahman tersenyum sambil menangis. “Ini bukan akhir lelah kita… ini awal kebahagiaan kita.”

Hari itu menjadi titik balik kehidupan mereka.

Setelah kelulusan itu, Raka tidak berhenti. Ia melanjutkan pendidikan dan mengikuti berbagai pelatihan dengan semangat tinggi. Ia tahu, jalan hidupnya tidak boleh berhenti di sana. Ia ingin membalas semua pengorbanan orang tuanya dengan keberhasilan yang nyata.

Sari tetap menjadi ibu yang sederhana, sementara Rahman masih bekerja sebagai sopir truk, meski kini lebih jarang mengambil perjalanan jauh karena usia yang mulai menua.

Waktu berjalan dengan cepat. Raka akhirnya menyelesaikan pendidikannya dan mengikuti seleksi pekerjaan di berbagai tempat. Setiap malam, ia berdoa dalam diam, mengingat wajah ayah dan ibunya yang penuh lelah namun tidak pernah menyerah.

Hingga suatu pagi, sebuah surat datang.

Dengan tangan gemetar, Raka membuka amplop itu. Matanya membaca cepat, lalu terdiam lama. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Ayah… Ibu… aku diterima bekerja di bank.”

Sari menutup mulutnya, menangis. Rahman hanya diam, lalu perlahan tersenyum. Tangannya bergetar memegang bahu anaknya. “Alhamdulillah… ini jawaban dari semua doa kita.”

Raka memeluk kedua orang tuanya erat. “Ini bukan hanya pekerjaanku… ini hadiah untuk kalian.”

Hari-hari setelah itu, Raka bekerja dengan penuh tanggung jawab. Ia dikenal sebagai karyawan yang sopan, jujur, dan rendah hati. Tidak pernah ia melupakan asal-usulnya. Setiap gaji pertama yang ia terima, sebagian besar ia kirimkan untuk orang tuanya.

Tahun demi tahun berlalu. Raka semakin mapan. Di tempat kerja, ia bertemu dengan seorang perempuan sederhana yang juga bekerja di bank yang sama. Hubungan mereka tumbuh perlahan, tidak tergesa-gesa, penuh kesabaran dan pengertian.

Hingga akhirnya Raka memutuskan untuk menikah.

Pernikahan itu digelar sederhana di kampung halaman. Rumah kecil yang dulu sunyi kini penuh tawa, doa, dan tangis haru. Rahman duduk di kursi kayu tua, memandang anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka perjalanan panjang penuh rindu itu akhirnya sampai di titik ini.

Sari menggenggam tangan suaminya. “Bang… kita berhasil melewati semuanya.”

Rahman mengangguk pelan. “Bukan kita… tapi Allah yang menguatkan kita.”

Di depan pelaminan sederhana, Raka bersujud di kaki orang tuanya. “Ayah… Ibu… tanpa kalian, aku tidak akan pernah sampai di sini.”

Rahman memeluknya erat. “Jangan pernah lupakan dari mana kamu berasal, Nak. Itu yang akan menjaga kamu tetap rendah hati.”

Hari itu menjadi hari penuh kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apa pun.

Setelah menikah, Raka membawa orang tuanya tinggal bersamanya di kota. Rumah sederhana yang dulu hanya mimpi kini menjadi nyata. Rahman yang dulu setiap hari di jalan kini lebih banyak duduk di teras, menikmati hidup dengan tenang.

Ia sering memandang langit senja, mengingat perjalanan panjang hidupnya sebagai sopir truk yang penuh rindu dan pengorbanan. Ia tersenyum kecil.

“Semua lelah itu… tidak ada yang sia-sia.”

Dan di akhir perjalanan hidupnya, Rahman akhirnya memahami satu hal: rindu yang paling berat adalah rindu yang ditahan demi orang yang dicintai, tetapi rindu itu pula yang pada akhirnya berubah menjadi kebahagiaan yang paling indah.

TAMAT

You Might Also Like

Melalui Jumat Berkah, Sat Lantas Polres Pekalongan Salurkan Bantuan ke Pondok Pesantren As-Syifaa
Kapolri Pimpin Serah Terima Jabatan 6 Pejabat Tinggi Polri
NENEK SAUDAH DIKEROYOK PEKERJA TAMBANG ILEGAL, POSKO SUMBAR PULIH DESAK NEGARA HADIR DAN BONGKAR JARINGAN PETI
SATPOL PP PADANG BONGKAR 5 BANGUNAN LIAR DI SIMPANG ALAI PAUH, PEMICU KEMACETAN
Polda Metro Jaya Gandeng Pakar Lintas Disiplin Ungkap Kematian Diplomat Kemlu
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Tercium Bau Tak Sedap! Dugaan “Bancakan” Rp1,8 Miliar Advertorial Menguat, Sekda Pekanbaru Tetap Bungkam
Next Article SMAN 3 Padang Resmi Lepas Siswa Studi Tour ke Sejumlah Kampus dan Destinasi Nasional
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Latest News

Kacabdin Pendidikan Wilayah 1 Bukittinggi Terima Kunjungan Silaturahmi Pimpinan Redaksi Sinyalgonews.com
Uncategorized News
21/07/2026
Usai Sukses Panen Raya, Polsek Kampar Kiri Kembali Sebar Bibit Jagung, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
News
21/07/2026
Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 Disetujui, Mahyeldi: Masukan DPRD Jadi Evaluasi Perbaikan Tata Kelola
News
21/07/2026
Seleksi Calon Pimpinan BAZNAS Sumbar Periode 2026–2031 Resmi Dibuka, Pendaftaran hingga 29 Juli
News
21/07/2026

You Might also Like

NasionalNewsPolitik

SatuPena Sumbar Umumkan Nominasi Lima Nama Penulis Prolifik dan Penulis Berprestasi

27/03/2025

Update Jumlah Korban Sementara Bencana Hidrometeorologi di Sumbar, 129 Meninggal Dunia dan 86 Masih Dinyatakan Hilang

01/12/2025

Dalam Dua Hari, TP PKK Sumbar Berhasil Tuntaskan 400 Kg dari Target 1 Ton Rendang untuk Korban Bencana Sumatera

17/12/2025
BatamNews

LSM TKP Klaim “Menang Telak” atas Pemko Batam, KI Kepri Perintahkan Buka Informasi Publik

22/04/2026

SinyalGoNews.com © 2024 All rights Reserved. made with ❤️ by Xweb.co.id

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?