Padang, Sinyalgonews.com,–Rumah Sakit Mata Sumatera Barat menggelar Workshop dengan tema “Deteksi Dini dan Skrining Glaukoma di Puskesmas. Acara berlangsung di Aula Rumah Sakit Mata Sumbar, Sabtu (25/4/2026). Workshop diikuti oleh Pimpinan puskesmas atau pengelola program indra Puskesmas se kota Padang.
Direktur Rumah Sakit Mata Sumbar, Ns, Beniara Asmus, S.Kep, M.Kep dalam sambutannya mengatakan, deteksi dini sangat penting untuk mencegah kebutaan akibat glaukoma. Menurutnya, gejala glaukoma sering tidak disadari dan baru diketahui ketika penyakit telah lanjut. “Kalau glaukoma diketahui sejak awal, maka saraf mata yang masih sehat bisa dipertahankan, sehingga orang bisa tetap bisa melihat hingga akhir hayat,” ujar Beniara.

Kegiatan workshop ini kata Beniara adalah untuk memberikan pengetahuan kepada pengelola program indra Puskesmas agar lebih trampil mendiagnosa penyakit mata terutama glaukoma.
Selanjutnya Beniara menyampaikan kalau Inovasi “Amal Jariyah” menjadi inovasi terbaik untuk tingkat Sumatera Barat.”Alhamdulillah, inovasi Amal Jariyah berhasil mendapat inovasi terbaik untuk tingkat Sumatera Barat dan akan menjadi inovasi andalan Pemprov Sumbar pada IGA Award tahun 2026″ tutur Beniara.

Sementara Dokter spesialis mata, dr, Andrini Ariesti, Sp. M(K) dalam paparannya mengingatkan masyarakat agar rajin melakukan deteksi dini melalui layanan medis skrining, terutama bagi pengidap diabetes maupun hipertensi hingga kelompok usia lanjut untuk menghindari penyakit glaukoma.
“Penyakit ini karena faktor usia, keturunan, etnik atau ras yang tidak dapat dicegah. Untuk lakukan deteksi dini. Kerusakan saraf mata akibat glaukoma tidak bisa disembuhkan atau dikembalikan, karena hanya bisa dikontrol,” ujarnya
Glaukoma adalah kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata akibat gangguan pada sistem aliran cairan mata.

Seseorang yang menderita kondisi ini, kata dia, dapat merasakan gejala berupa gangguan penglihatan, nyeri pada mata, sakit kepala.
Glaukoma, lanjut dia, merupakan penyebab kebutaan kedua terbanyak setelah katarak di seluruh dunia maupun di Indonesia, bahkan akibatnya bisa bersifat permanen.
“Karena sering tidak bergejala, calon penderita glaukoma kerap tidak menyadarinya. Karenanya harus diwaspadai bila memiliki riwayat diabetes, hipertensi atau yang secara umum kerap merasakan sakit kepala,” ucapnya.
Dr, Andrini Ariesti, Sp. M(K) menjelaskan, penyakit glaukoma memiliki dua jenis, yaitu primer serta sekunder, dan yang membedakan adalah penyebabnya.
Pada jenis primer, penyebabnya tidak diketahui, namun faktor genetik memiliki peran di dalamnya, sedangkan jenis sekunder karena efek samping obat-obatan atau akibat trauma dan penyakit lainnya.
Dampak glaukoma mengakibatkan kualitas hidup penderita mengalami gangguan penglihatan, dan akan adanya pengobatan yang intensif dan periodik.
Berdasarkan catatannya, dari 39 juta angka kebutaan di dunia, penyakit glaukoma menyumbang 3,2 juta jiwa atau 4-5 orang dari 1.000 orang di Indonesia adalah penderitanya.
(Marlim)