Oleh: TEUKU HUSAINI
Setiap detik, kematian melangkah mendekat. Ia tak pernah terlambat, tak pernah salah alamat, dan tak pernah membatalkan janji. Yang pasti hanyalah waktu kedatangannya—bukan kapan, melainkan kepada siapa ia lebih dulu mengetuk pintu.
Anehnya, justru manusialah yang gemar menunda. Menunda taubat, menunda salat yang khusyuk, menunda meminta maaf, menunda berbuat baik. Kita hidup seolah-olah memiliki kontrak panjang dengan dunia, seakan esok pasti masih menjadi milik kita.
Kita berlari tanpa henti mengejar jabatan, mengejar pujian, mengejar harta, mengejar gengsi. Siang dan malam dihabiskan demi sesuatu yang kelak akan kita tinggalkan. Ketika ajal datang, rumah megah tak ikut masuk ke liang lahat, rekening bank tak mampu membeli satu detik tambahan umur, dan jabatan setinggi langit pun tak bisa menunda malaikat maut.
Lebih menyedihkan lagi, kita sering sibuk menghitung kekayaan, tetapi lupa menghitung dosa. Sibuk mempercantik wajah, tetapi lalai membersihkan hati. Sibuk membangun nama di dunia, tetapi membiarkan catatan amal di langit kosong dan berdebu.
Liang lahat tak pernah bertanya, “Apakah targetmu sudah tercapai?” Kubur juga tak peduli apakah engkau pejabat, pengusaha, orang terkenal, atau rakyat biasa. Yang ditanya hanyalah iman, amal, dan apa yang telah kau persiapkan untuk menghadap Allah.
Berhentilah sejenak. Tataplah dirimu dengan jujur.
Jika malam ini adalah malam terakhirmu, sudah siapkah engkau bertemu Allah?
Jangan tunggu rambut memutih, jangan tunggu tubuh sakit, jangan tunggu kehilangan orang-orang tercinta untuk sadar. Sebab banyak yang lebih muda telah lebih dahulu dipanggil pulang.
Pada akhirnya, bukan ambisi yang menemani kita. Bukan kekuasaan, bukan kemewahan, bukan tepuk tangan manusia.
Yang setia menemani hanyalah amal saleh, niat yang ikhlas, doa yang tulus, dan hati yang selalu kembali kepada Allah.
Jangan menunggu ajal untuk menjadi hamba yang taat. Karena ketika ajal datang, penyesalan tak lagi berguna.
= TH =
Semoga tulisan ini menjadi pengingat yang menyentuh hati tanpa menghakimi, sekaligus mengajak pembaca untuk merenung dan memperbaiki diri.