Padang, Sinyalgonews.com,–Setiap kali Hari Susu Nasional (HSN) tiba—tepatnya 1 Juni—saya selalu membayangkan hal yang sama: segelas susu hangat di atas meja makan, menunggu tangan kecil anak-anak Indonesia untuk menyambutnya. Tapi kenyataannya, tak semua rumah punya kesempatan seperti itu.
Susu, yang dalam pandangan banyak orang hanyalah minuman putih biasa, sejatinya adalah sumber nutrisi luar biasa. Di balik warnanya yang sederhana, tersembunyi protein, kalsium, fosfor, vitamin D, serta berbagai zat gizi mikro yang krusial bagi pertumbuhan tulang, pembentukan otot, dan kekebalan tubuh. Ia bukan sekadar pengisi lambung, tapi pembangun masa depan generasi bangsa. Sayangnya, budaya minum susu di Indonesia masih sebatas seremonial, bukan kebiasaan harian.
Menurut FAO, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Di balik rendahnya angka ini, ada dua akar masalah utama: pertama, kurangnya edukasi gizi yang merakyat dan berkelanjutan; kedua, akses terhadap produk susu yang belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Susu masih dianggap ‘barang mewah’, bukan kebutuhan dasar.
Sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan, saya melihat sendiri betapa besar potensi negeri ini dalam menghasilkan susu lokal. Sapi perah kita ada, peternak tangguh pun banyak. Tapi tanpa dukungan sistem yang kuat—dari distribusi, pengolahan, hingga pemasaran—susu lokal kita akan terus kalah oleh merek impor. Belum lagi soal harga. Bagi sebagian keluarga, membeli satu liter susu bisa berarti mengorbankan bahan pokok lain.
Ada pula masalah yang jarang dibicarakan secara terbuka: intoleransi laktosa. Banyak orang Indonesia—secara genetik—memiliki kesulitan mencerna laktosa dalam susu sapi. Akibatnya, sebagian langsung menghindari susu sama sekali. Padahal, teknologi sudah memungkinkan hadirnya produk susu rendah atau bebas laktosa yang tetap kaya manfaat. Tapi lagi-lagi, informasi dan akses jadi kendala.
Ironisnya, di tengah masalah ini, kita sedang menghadapi tantangan besar: angka stunting yang masih tinggi
Anak-anak yang gagal tumbuh optimal akibat kekurangan gizi kronis akan sulit mengejar ketertinggalan fisik dan intelektual di kemudian hari. Dan susu—dengan segala kandungannya—adalah salah satu solusi alami paling efektif yang bisa kita dorong.
Momen Hari Susu Nasional seharusnya tidak sekadar menjadi ajang kampanye instan dari industri besar atau seremoni tahunan dengan poster-poster penuh senyum. HSN harus dijadikan panggung refleksi nasional: mengapa kita belum berhasil menjadikan susu sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat?
Edukasi gizi harus dimulai sejak dini, bukan hanya di sekolah, tetapi juga lewat media sosial, komunitas, bahkan warung kopi. Bayangkan jika gerakan “Minum Susu Setiap Hari” bisa seviral tren TikTok. Bayangkan jika anak muda melihat segelas susu bukan hanya sebagai minuman anak kecil, tapi simbol gaya hidup sehat, berenergi, dan peduli lingkungan.
Pemerintah pun tak bisa tinggal diam. Subsidi harga susu untuk masyarakat berpendapatan rendah, insentif untuk peternak lokal, dan pengembangan industri olahan susu bebas laktosa harus dijadikan prioritas. Jangan biarkan produk berkualitas hanya dinikmati segelintir orang di pusat kota. Susu harus hadir di dapur rumah petani, nelayan, hingga pekerja informal.
Di tengah semangat menuju Indonesia Emas 2045, kita tak bisa membangun generasi unggul dengan tulang keropos dan tubuh lemas. Susu bukan solusi tunggal, tapi ia adalah bagian penting dari mozaik kebijakan gizi nasional yang harus kita susun sejak sekarang.
HSN 2025 harus menjadi titik balik, bukan pengulangan. Mari kita ubah cara pandang kita. Karena dalam setiap tetes susu, tersimpan harapan yang terlalu besar untuk diabaikan.
Penulis Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Andalas