BUKITTINGGI, Sinyalgonews.com,--Selama sepekan terakhir, Tim SK4 (Satuan Kerja Ketenteraman dan Ketertiban Umum) yang terdiri dari unsur Satpol PP, TNI, Polri, bersama jajaran pemerintah kota turun langsung menata kawasan Pasar Atas dengan pendekatan persuasif dan penuh kehati-hatian sosial.
Wajah penertiban di kawasan Pasar Atas pun kali ini terasa tak biasa. Tidak ada suara keras. Tidak terdengar teriakan aparat. Bahkan, tak tampak drama kejar-kejaran pedagang seperti yang lazim membayangi operasi penataan pasar di banyak kota.
Yang muncul justru pemandangan yang nyaris langka, yaitu aparat duduk berbincang, pedagang diajak berdialog, dan penertiban dilakukan dengan bahasa yang manusiawi.
Di lapangan, Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias bersama Staf Ahli, Efriadi, Kepala Dinas UKM dan Perdagangan Heriman tampak memimpin langsung proses penataan. Fokusnya bukan sekadar “membersihkan” trotoar dan badan jalan, tetapi menjaga keseimbangan antara ketertiban kota dan denyut ekonomi rakyat kecil.
“Langkah persuasif ini bertujuan untuk menjaga estetika kota dan kelancaran fasilitas umum tanpa mengabaikan pendekatan persuasif,” ujar Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias di sela kegiatan.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di tengah citra penertiban yang selama ini identik dengan ketegangan, pendekatan tersebut menjadi semacam pesan bahwa pemerintah mencoba mengubah cara berhadapan dengan pedagang kecil, yakni bukan sebagai masalah, melainkan bagian dari wajah kota itu sendiri.
Ramlan menegaskan, arahan cukup jelas. Penataan harus tetap tegas, tetapi tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaan.
Wajah kota, katanya, memang harus dijaga. Namun nasib pedagang kecil juga tidak boleh dikorbankan atas nama ketertiban semata. Karena itu, komunikasi santun dan pendekatan kekeluargaan dijadikan “senjata utama” dalam setiap penertiban.
Di sepanjang kawasan pasar, petugas tampak lebih banyak berdialog ketimbang memerintah. Pedagang diberikan penjelasan terkait penempatan lokasi resmi yang telah disediakan pemerintah kota. Sebagian yang awalnya bertahan, perlahan mulai memahami arah kebijakan tersebut setelah diajak berbicara secara baik-baik.
Kepala Dinas UKM dan Perdagangan, Heriman menegaskan, penataan dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum agar fungsi trotoar, badan jalan, dan fasilitas publik tidak lumpuh oleh aktivitas perdagangan liar.
“Khusus di kawasan pasar, kita ingin aktivitas perdagangan tetap berjalan, tetapi fasilitas umum juga harus berfungsi dengan baik,” ujarnya.
Namun di balik penertiban itu, tersimpan agenda yang lebih besar, yakni membentuk identitas Pasar Atas sebagai wajah destinasi wisata Bukittinggi.
Karena itu, pemerintah memprioritaskan pedagang aksesoris, souvenir, dan baju khas Jam Gadang untuk masuk ke dalam gedung Pasar Atas. Produk-produk tersebut dianggap paling merepresentasikan identitas wisata kota.
Sementara pedagang topi, kacamata, dan asesoris lainnya juga akan diupayakan mendapat tempat, khususnya mereka yang memang sudah lama berjualan di sekitar kawasan Jam Gadang.
“Yang diutamakan adalah pedagang yang memang existing berjualan di kawasan itu,” terang Heriman. Namun bagian paling menarik justru terjadi bukan saat penertiban berlangsung, melainkan ketika ruang dialog dibuka.
Di tengah proses penataan, pemerintah memberi kesempatan bagi pedagang yang belum memperoleh tempat di gedung Pasar Atas untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Suasana diskusi berlangsung cair, jauh dari kesan konfrontatif.
Di sana, terselip kegelisahan para pedagang kecil yang masih menggantungkan harapan pada secarik kepastian tempat usaha.
Salah satu pedagang kuliner,, menjadi salah satu suara yang mewakili keresahan itu,,..
“Beberapa dari kami belum ikut loting tempat untuk berjualan. Kami berharap kepada dinas pasar untuk segera mencarikan solusi terbaik bagi kami agar bisa berjualan dengan aman dan nyaman,” ungkapnya.
Pernyataan itu seperti mengingatkan satu hal penting, bagi pedagang kecil, penataan bukan sekadar soal pindah lapak. Ia menyangkut dapur rumah tangga, biaya sekolah anak, dan keberlangsungan hidup sehari-hari.
Menanggapi aspirasi tersebut, pihak dinas langsung membuka komunikasi lanjutan dan mempersilakan pedagang datang ke kantor dinas untuk mencari solusi bersama.
Sementara itu, sejumlah pedagang aksesoris yang sebelumnya berjualan di depan gedung Pasar Atas mulai menempati lantai 1 dasar gedung pasar sejak Kamis (21/5) lalu.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa penataan pasar di Bukittinggi sedang diarahkan bukan hanya untuk menciptakan kota yang rapi, tetapi juga menghadirkan ruang usaha yang lebih layak, tertata, dan manusiawi.
Sebab pada akhirnya, kota yang tertib bukanlah kota yang membungkam pedagang kecil, melainkan kota yang mampu menata tanpa melukai.