Sinyalgonews.com — Oleh: TEUKU HUSAINI
Malam itu terasa biasa, seperti malam-malam sebelumnya. Namun siapa sangka, di balik kesederhanaan waktu yang berlalu, tersimpan perpisahan yang tak pernah diduga.
Rahma masih mengingat jelas setiap detik kebersamaan dengan suaminya, almarhum Paino Nugroho bin Poniman. Seorang suami yang sederhana, pekerja keras, dan penuh kasih sayang terhadap keluarga. Tak pernah sekalipun ia mengeluh, tak pernah pula ia membebani Rahma dan ketiga anak mereka.
Hari itu, Rahma pulang dari ladang. Tubuhnya lelah, namun hatinya hangat karena tahu di rumah ada sosok yang selalu menunggu. Seperti biasa, mereka menjalani aktivitas dengan penuh kebersamaan. Malam harinya, mereka pergi ke masjid untuk mengikuti pengajian. Tidak ada firasat apa pun. Tidak ada tanda-tanda kesedihan. Semua berjalan seperti biasa.
Sekitar pukul dua belas malam, mereka pulang. Rahma dan suaminya beristirahat. Dalam hati, Rahma merasa damai. Ia tak pernah menyangka, malam itu adalah malam terakhir ia melihat suaminya dalam keadaan hidup.
Pukul tiga dini hari, seperti kebiasaannya, almarhum Paino bangun untuk melaksanakan salat tahajud. Rahma yang terbangun mencoba membangunkan suaminya kembali. Namun saat itulah dunia seakan runtuh.
Tubuh suaminya sudah tak bernyawa.
Rahma terpaku. Tangis pecah seketika. Ia tak percaya. Tak ada sakit sebelumnya, tak ada keluhan, tak ada tanda apa pun. Seakan Tuhan memanggilnya dalam keadaan paling tenang, tanpa beban, tanpa penderitaan.
“Dia tidak meninggalkan beban bagi kami,” lirih Rahma mengenang.
Namun justru itulah yang membuat kehilangan terasa begitu dalam. Kepergian yang tiba-tiba meninggalkan luka yang tak terlukiskan.
Rahma kini harus melanjutkan hidup bersama tiga buah hati mereka. Anak pertama, Riski Kurniawan, yang kini berusaha menjadi penguat bagi ibunya. Anak kedua, Feriduwiansyah, yang diam-diam memendam rindu mendalam pada sosok ayah. Dan si bungsu, Aulia Syahputri, yang masih membutuhkan pelukan hangat seorang ayah yang kini hanya tinggal kenangan.
Kenangan itu semakin terasa perih ketika Rahma mengingat sebuah momen sederhana—foto terakhir mereka bersama. Saat itu, Rahma berulang tahun. Almarhum Paino berkata, “Duduk di sini, kita foto buat kenangan.”
Rahma menurut. Ia tersenyum, tanpa menyadari bahwa momen itu akan menjadi kenangan terakhir yang akan ia genggam seumur hidup.
Hanya sebulan setelah foto itu diambil, takdir memisahkan mereka.
Kini, setiap kali Rahma melihat foto tersebut, hatinya seperti diiris perlahan. Senyum yang dulu terasa hangat, kini berubah menjadi luka yang dalam. Ia tak pernah menyangka, ucapan sederhana suaminya saat itu adalah pertanda perpisahan.
Rahma masih muda. Begitu juga almarhum suaminya saat dipanggil Sang Khalik. Namun takdir berkata lain. Cinta mereka tidak berhenti, hanya terpisah oleh alam yang berbeda.
Di setiap doa, Rahma selalu menyebut nama suaminya. Ia berharap, kelak mereka akan dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih indah. Ia yakin, suaminya kini berada di tempat terbaik, di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih.
Meski air mata tak pernah benar-benar berhenti, Rahma belajar untuk kuat. Demi anak-anaknya. Demi amanah yang ditinggalkan suaminya.
Karena cinta sejati tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berubah menjadi doa, menjadi rindu, dan menjadi kenangan yang hidup abadi di dalam hati.
Dan di setiap sujud panjang Rahma, selalu ada satu nama yang ia bisikkan dengan penuh cinta—
Paino Nugroho bin Poniman.
Semoga damai di sisi-Nya.