Oleh: Editor TEUKU HUSAINI –
Sinyalnewsgo.com,–Minangkabau sejak dahulu dikenal sebagai negeri yang memiliki falsafah hidup kuat dan kokoh. Adat dan agama berjalan seiring, saling menopang, serta menjadi benteng moral masyarakat. Filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” atau ABS-SBK bukan sekadar slogan budaya, melainkan pedoman hidup yang diwariskan turun-temurun oleh niniak mamak kepada anak kemenakan.
Namun hari ini, arus zaman digital bergerak sangat cepat. Perubahan sosial, budaya, hingga pola pikir generasi muda semakin sulit dibendung. Anak kemenakan Minangkabau kini hidup di tengah derasnya pengaruh media sosial, budaya luar, informasi tanpa batas, dan gaya hidup instan yang perlahan mengikis nilai adat serta ajaran agama. Jika kondisi ini tidak disikapi dengan bijak, maka jati diri Minangkabau bisa semakin tergerus.
Di era digital, tantangan bukan lagi sekadar persoalan ekonomi atau pendidikan, tetapi juga pertarungan moral dan identitas budaya. Banyak generasi muda yang mulai jauh dari surau, kurang mengenal adat, bahkan tidak memahami makna ABS-SBK secara utuh. Sebagian lebih bangga mengikuti tren luar dibanding mempelajari warisan leluhur sendiri. Padahal Minangkabau besar karena kekuatan adat yang berpijak kepada Islam.
Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi seluruh unsur masyarakat Minangkabau. Niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, hingga pemerintah daerah harus kembali memperkuat sinergi demi menjaga marwah ranah Minang. Jangan sampai generasi penerus kehilangan arah akibat derasnya arus digitalisasi yang tidak memiliki batas nilai dan etika.
Teknologi sebenarnya bukan musuh. Digitalisasi dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan adat, serta penguatan budaya jika digunakan dengan benar. Banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan nilai ABS-SBK kepada generasi muda melalui media sosial, podcast, video edukasi, hingga platform digital lainnya. Anak muda Minangkabau harus diajak memahami bahwa kemajuan teknologi tidak boleh memutus hubungan dengan agama dan adat.
Saat ini yang dibutuhkan adalah gerakan bersama. Surau harus kembali dihidupkan sebagai pusat pendidikan moral dan spiritual. Kegiatan adat jangan hanya menjadi seremonial, tetapi benar-benar menjadi ruang pembinaan generasi muda. Orang tua juga harus lebih peduli terhadap perkembangan anak di dunia digital. Jangan biarkan telepon genggam menjadi “guru utama” yang membentuk karakter mereka tanpa pengawasan.
Selain itu, pendidikan berbasis budaya dan agama perlu diperkuat sejak dini. Sekolah, lembaga adat, dan keluarga harus berjalan seiring. Anak kemenakan perlu diajarkan tentang sejarah Minangkabau, penghormatan kepada orang tua, etika bermasyarakat, serta pentingnya menjaga akhlak di tengah perkembangan teknologi. Sebab kemajuan tanpa moral hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara teknologi tetapi lemah secara iman dan adab.
Minangkabau pernah melahirkan tokoh besar bangsa karena kuatnya pendidikan agama dan adat. Dari surau-surau kecil lahir ulama, pejuang, pemikir, dan pemimpin yang disegani. Semangat itu harus dibangkitkan kembali. Jangan sampai anak kemenakan hari ini justru menjadi korban zaman karena kehilangan pegangan hidup.
ABS-SBK harus tetap menjadi fondasi utama masyarakat Minangkabau. Adat tanpa agama akan kehilangan arah, sementara agama tanpa penguatan adat akan sulit membumi dalam kehidupan sosial masyarakat Minang. Keduanya harus berjalan seiring menghadapi tantangan zaman modern.
Di tengah derasnya pengaruh globalisasi dan digitalisasi, masyarakat Minangkabau tidak boleh terpecah. Persatuan seluruh unsur adat dan agama menjadi kunci utama menjaga identitas serta masa depan generasi muda. Ranah Minang harus tetap berdiri kokoh dengan nilai Islam yang kuat, adat yang hidup, dan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan jati diri.
Anak kemenakan hari ini membutuhkan teladan, bukan sekadar nasihat. Mereka membutuhkan perhatian, pembinaan, dan lingkungan yang mampu menjaga mereka dari pengaruh buruk dunia digital. Jika seluruh elemen masyarakat bersatu dalam semangat ABS-SBK, maka Minangkabau akan tetap menjadi negeri beradat, beriman, dan bermartabat di tengah perubahan zaman yang semakin keras menggilas kehidupan sosial masyarakat.