Jacob Ereste :
Sinyalgonews.com,–Tukang kritik itu akhirnya mati, tak jelas karena opini yang merebak penyebabnya karena bunuh diri. Sebagian orang memang percaya, tapi sebagian yang lain sangsi, tidak yakin ia mati karena bunuh diri. Karena banyak yang mengenal tabi”atnya si tukang kritik ini sangat tangguh dan kukuh percaya bahwa bunuh diri itu adalah dosa, sebab dalam keyakinan agama yang dia anut meyakini bahwa jasad manusia yang bunuh diri itu tidak akan diterima oleh bumi. Jadi, alih-alih bisa masuk surga, sekedar untuk dibenamkan ke bumi saja, jasadnya sudah diperlakukan seperti pendatang haram dari negeri entah berantah yang harus diekstradisi.
Maka ramailah spekulasi yang beredar. Mulai dari mereka yang tak habis berpikir, bagaimana mungkin dia mati begitu cepat, sedangkan tulisan yang tajam menggores batok kepala para pejabat publik di negeri ini, baru saja dia rilis tadi pagi dan tertanggal hari ini juga. Sehingga ragam mustahil semakin terasa ganjil. Lalu sejumlah jurnalis coba mengkonfirmasi kepada pihak keluarga, semua sanak familinya pun justru balik bertanya pada sejumlah jurnalis yang mengerubuti sanak famili dan keluarga sang tukang kritik yang mati secara misterius itu. Wajar saja diantarnya lantas mengusulkan untuk dilakukan otopsi untuk memastikan penyebab dari kematian si tukang kritik yang menghebohkan warga sekampung.
Menjelang beberapa saat kemudian mulailah berita kematian sang tukang kritik itu mengemuka di berbagai media sosial yang relatif lebih cepat dan hemat untuk dipublis dan langsung mendapat sambutan yang sangat beragam, serta pendapat hingga opini yang lebih terkesan dramatis sehingga membuat suasana di rumah duka itu semakin tegang dan terkesan seru.
Setidaknya, ada semacam misteri yang ikut menjadi bagian dari narasi kronologis yang semakin sulit untuk diusut. Bahkan hasil otopsi dari pihak ahli pun tak bisa menyimpulkan penyebab dari kematian sang almarhumah, sebagai wanita bergelar “batu cadas” dari sahabat dan siapa saja yang telah mengenal dirinya, seperti penyanyi rock dengan vokalnya yang keras dan khas.
Akibat dari kematian sang tukang kritik yang bergelar “batu cadas” ini, semua pelosok negeri seakan berkabung, semua kegiatan dan aktivitas seperti berhenti dengan sendirinya, sebab perhatian semua orang tertuju kepada peristiwa kematian sang tukang kritik yang sudah cukup diketahui oleh banyak orang, kendati tidak terlalu banyak yang bisa mengenalnya secara langsung, sebab kerjanya memang lebih dominan berada di belakang meja. Dan tak banyak melakukan kontak langsung atau semacam bersosialita yang tidak dia sukai, apalagi sekedar untuk membangun pencitraan.
Upacara pemakamannya pun jadi tertunda untuk mendengar berbagai pendapat dan saran dari keluarga lainnya, termasuk sejumlah5 sahabat karibnya yang telah berkerumun di rumah duka. Dan upacara keagamaan pun terus dilakukan secara berulang oleh beberapa kelompok secara bergilir, termasuk dari keluarga dan family almarhumah yang baru datang kemudian dari luar kota.
Yang pasti, kematian sang tukang kritik jadi ditunda atas kesepakatan dan saran dari pihak keluarga, sahabat dan kerabat hingga tokoh masyarakat kampung setempat, agar tidak salah langkah, utamanya untuk dapat memastikan penyebab dari kematian almarhumah yang cukup fenomenal dan mendapat perhatian luas dari warga masyarakat.
Atas dasar itulah, pejabat penting dari pemerintah daerah hingga pusat jadi merasa perlu untuk ikut hadir guna lebih memastikan apa yang sesungguhnya terjadi di balik kematian si tukang kritik yang semakin meluas menjadi perhatian dan pembicaraan publik, sampai harus kembali ditunda upacara pemakamannya untuk kembali melakukan otopsi sandingan dari pihak rumah sakit yang lain bersama seluruh dokter ahlinya yang sungguh dapat dipercaya independensi serta profesionalitas keahliannya.
Ketika tim dokter yang juga didampingi oleh ahli forensik telah menyerah, karena tidak bisa menyimpulkan apa yang menjadi penyebar dari kematian almarhumah ini, justru menambah serunya pergunjingan, bahwa penyebab dari kematian si tukang kritik yang acap selalu melontarkan pernyataan yang keras seperti palu baja penempa besi, jadi menambah nilai misteri dari kematian almarhum yang sangat ganjil dan terkesan paling aneh dari sejumlah kematian atau bahkan pembunuhan yang pernah terjadi dalam rentangan sejarah di dunia yang sungguh langka.
Pada akhirnya, kematian almarhumah sebagai sosok yang sangat terkenal sebagai tukang kritik yang keras, jadi menarik sejumlah jurnalis, para peneliti hingga para ahli psikoanalisis dari berbagai manca negara, sampai mengesankan pada lingkungan tempat tinggal almarhumah menjadi kawasan wisata baru yang dikunjungi oleh banyak orang dari beragam tempat dan profesi serta aneka kepentingan, termasuk mereka yang sekedar ingin tahu saja, tanpa mengharapkan hasil apa-apa, kecuali hanya untuk pengetahuan semata.
Meski begitu, toh kesimpulan yang juga ikut berkembang dari berbagai pendapat dan tafsir bebas tentang kematian yang sungguh misterius ini, rumusan yang bisa juga diterima oleh akal sehat bila kematian almarhumah disebabkan oleh tekanan psikis yang cukup berat, setidaknya setara dengan beban dari kritik almarhumah yang selalu dianggap tak berguna.
Atas kesimpulan ini banyak pihak yang ikut terperangah, termasuk pemerintah yang cukup dominan menjadi obyek ketikannya yang keras itu. Hingga seorang dari Balai Kota menangis tersedu, seakan menyesali sesuatu yang sudah terlanjur hilang. Semua orang pun yang menyaksikannya tampak terperangah, tak bisa berkata apa-apa kecuali membisikkan satu pertanyaan pendek yang sayup-sayup dibawa angin melambung ke langit. Yang pasti, hanya Tuhan saja yang tahu, apa artinya semua itu.
Pantai Indah Kapuk III, 22 Juli 2026