Padang, Sinyalgonews.com – Warga Jalan Kampung Jambak, Kelurahan Gunung Sariak, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, mengaku resah akibat terhambatnya pekerjaan normalisasi sungai yang sedang berlangsung di wilayah mereka. Hambatan tersebut diduga disebabkan oleh ulah salah seorang warga yang memanfaatkan proyek penanganan bencana untuk kepentingan pribadi, Senin (5/1/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga setempat, oknum tersebut diduga memaksa alat berat yang seharusnya digunakan untuk normalisasi sungai dan pembuatan jalan darurat, agar mengisi pasir ke dalam truk untuk dijual. Aktivitas tersebut disebut-sebut dilakukan di luar kepentingan proyek dan tidak berkaitan dengan upaya penanganan dampak bencana galodo yang melanda kawasan tersebut.
Dugaan praktik tersebut semakin mencuat setelah sebuah video beredar luas dan viral di media sosial. Dalam narasi video tersebut disebutkan bahwa operator alat berat sempat mendapat ancaman apabila menolak memuat pasir ke dalam truk yang disiapkan oleh oknum bersangkutan.
“Kalau tidak mau memuat pasir, operatornya diancam,” demikian narasi yang beredar dalam video viral tersebut.
Dalam video yang sama, juga disebutkan bahwa penjualan pasir itu diduga dilakukan hampir setiap hari, dengan jumlah mencapai satu hingga lima truk per hari. Aktivitas tersebut dinilai warga sangat merugikan, karena menghambat progres pekerjaan utama, yakni penanganan sungai dan pembuatan akses darurat bagi masyarakat.
Akibat terhambatnya pekerjaan, akses jalan menuju SMPN 41 Padang dilaporkan terputus. Kondisi ini memaksa warga, termasuk anak-anak sekolah, untuk melintasi area persawahan yang licin dan berlumpur, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan mereka.
“Anak-anak terpaksa lewat sawah. Kalau hujan, sangat berbahaya. Ini seharusnya menjadi prioritas, bukan malah disalahgunakan,” keluh salah seorang warga.
Warga sekitar menyayangkan kejadian tersebut karena dinilai memperlambat penanganan dampak bencana galodoyang masih dirasakan hingga kini. Mereka menilai, di tengah situasi darurat, seharusnya seluruh pihak mendukung upaya pemulihan, bukan justru mengambil keuntungan pribadi.
Diketahui, dampak galodo di kawasan tersebut cukup serius. Sedikitnya tiga unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan, sementara sekitar 10 kepala keluarga berada dalam kondisi terancam, mengingat jarak sungai dengan permukiman kini hanya tersisa beberapa meter.
Warga berharap pihak berwenang segera turun tangan, menindaklanjuti dugaan penyalahgunaan alat proyek tersebut, serta memastikan proses normalisasi sungai berjalan sesuai peruntukannya demi keselamatan dan kepentingan masyarakat luas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan tersebut. Redaksi akan terus memantau perkembangan dan menunggu klarifikasi dari pihak berwenang.
Sumber: infominang