Pesisir Selatan, Sinyalgonews.com,--Batang Kambang berada di dahulu nagari Kambang sebelum dimekarkan jadi 5 Nagari Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan, propinsi Sumatera barat, daerah ini terbesar sungainya Batang Kambang dan Batang Lengayang menjadi satu muara. Panjangnya sekitar 50 km dari puncak bukit barisan belahan timur Muarolabua kabupaten Pesisir Selatan.

Dahulu sungai kata Jonaidi, SH, MH tahun 70-an ini tidak bisa diseberangi karena batu2an besar, licin, sungai deras dan dalam, tiap hari menyebersng sekitar 6 Desa musti naik sampan (perahu) orang, sepeda, sepeda motor kata saksi bernama JONAIDI, SH, MH kini berprofesi praktisi hukum dan pengusaha dirantau orang dan saatvkecil dikampung sekaligus pelaaku (pemilik sampan) pelabuhannya dekat masjid RAHMATURRAHIM masjid tertua senagari Kambang diantara 5 masjit Kampungakat, Lubuksarik, Kotobaru, Kotokandis, Tampunik,
Sungai / Batang Kambang ini didiami aneka udang, ikan sisik / ikan jurong, puyau, kapare, mungkus, ikan panjang, siluang, basi-basi, cinok, garing, belanak, simbubu, ikan sengat sejenis ikan baung, Simontong, dll,
Dahulu orang memanen kayu dihulu hutan cara menggergaji (muarik) dengan membelah 1 orang diatas dan 1 orang dibawah menggesekan gergaji panjang sekitar 2 meter membuat papan, broti untuk dijual hari pekan (Kamis dan Sabtu).
Air gunung bukit barisan yang sejuk bersih umumnya orang mandi dan mencuci disungai sepanjang aliran sungai mulai desa / kampung Silawe, Kampungakat, Gantingkubang, Lubuksarik, Sumbaru, Padangpanjang I, Padangpanjang II, Tebingtinggi, Medanbaik, Talang TS, padangrubia, Rengas Pasargompong.
Dalam buku Monografi Nagari Kambang penduduknya sekecsmatan sekitar lebih 45.000 jiwa itu, Sejak pemerintah menetapkan hutan sepanjang bukit barisan sekitar 1,3 juta ha menjadi Taman Nasional Batang Gadis (TNKS), sehingga tanah ulayat kata istilah Minik Mamak batas ulayat Kambang dari Ombak Badabua Bampai Puncak Bukit Barisan yang sekitar 50 km tadi dari Timur ke Barat.
Kini masyarakat adat tidak memanen kayu hutan dengan tradisional lagi, tidak memanen Gaharu lagi, tidak mencari Rotan / Manau lagi, tidak memanen Damar, Kulit Medang, dll, adakah pengganti dari pemerintah para pencari hasil hutan itu ? Belum ada terdengar, hanya berita itu yang kita tau.
Kini apa dikata ? Ikannya punah, airnya susut bukan tanggung tanggung bisa main bola didasar sungai kering itu, bila bsnjir sekarang bak kilat deaaarrr 1 jam nik air bisa 3 meter lebih, dahulu bisa air naik 4 jam surut juga lama.
Ini terjadi diduga pohon hutan tidsk lebat lagi dihutan. Timbul petanyaan “kemana pohonnya” ? Padahal warga sekitar tdk masuk hutan lagi, tdk ada aktifitas kehutannya lagi (hilang mata pencariannya) sudah ratusan tahun turun temurun. TNKS nya pada kemana ? Apakah musti rakyat balik masuk hutan memaneh hasil hutannya ? Bagaimana kondisi hutan saat ini ? Apakah ada maling kehutanan ? Dalam hal ini Pemkap Pesisir Selatan dan Pemrtintah Propinsi Sumatera Barat serta Pemerintah Pusat musti Strong, karena kekeringan sudah kelewstan dan banjir bertubitubi merendam ratusan lantai rumah warga tiap banjir, ada ysng hanyut rumahnya.
Orang Kambang asalnya dari Muarolabua 62 induk turun ke Kambang 7 suku kini sudah puluhan ribu jumlah warganya.
Jalan mereka tapaki dari Muarolabua turun bukit barisan ikut aliran sungai bertahap Sungi Batang Kambang dan Batang Lengayang, sebsiknya jalan tepi aliran dungai bersejarah sanak Muarolabua Kabupaten Solok Selatan ke Kambang Kabupaten Pesisir Selatan baiknya tetap dirawat guna silaturrahim tak putus dan menhidupkan sejarah Kambang – Muarolabuh serta memperpendek jalan sekitar 32 km, bila melalui Kota Padang sekitar 280 km.